Solusi Kios Sepi, Disdag Samarinda Buka Ruang Dialog Bertahap Bareng Pedagang Pasar Pagi

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 10:17 WIB
Kios kosong di Pasar Pagi Samarinda.
Kios kosong di Pasar Pagi Samarinda.

SAMARINDA — Gelombang kritik dan keluhan dari para pedagang Pasar Pagi Samarinda akhirnya mendapat respons dari Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda. Pemerintah memastikan akan merangkul para pedagang untuk duduk bersama mencari titik terang atas persoalan sepinya pembeli hingga penataan kios.

Kepala Disdag Samarinda, Nurrahmani, menegaskan bahwa pemerintah memandang masukan dari para pedagang sebagai evaluasi positif untuk pembenahan pasar secara menyeluruh. "Kami menyampaikan kepada para pedagang bahwa kritik dan saran itu sifatnya membangun. Oleh karena itu, dalam waktu dekat kami akan menggelar diskusi. Nanti perwakilan-perwakilan pedagang akan kami undang untuk membahas langkah terbaik ke depan," kata Nurrahmani.

Ia menekankan bahwa pertemuan tersebut nantinya tidak hanya sebatas ajang menampung keluhan, melainkan forum untuk melahirkan komitmen bersama demi menghidupkan kembali denyut perekonomian di Pasar Pagi.

Mengenai tuntutan ganti rugi atau kompensasi untuk lapak yang sepi, Nurrahmani meluruskan bahwa pemerintah daerah berfungsi sebagai pengelola tata ruang, bukan pelaku transaksi jual beli. "Karena itu pendekatan kami adalah perbaikan. Perbaikan ini harus dibicarakan oleh kedua belah pihak, baik pedagang maupun kami," ujarnya.

Disdag berencana mengurai benang kusut ini secara bertahap. Sejumlah poin krusial yang diusulkan pedagang—mulai dari restrukturisasi ukuran kios, pemanfaatan ruang lantai atas, hingga status ratusan kios yang masih mangkrak—akan masuk dalam agenda pembahasan.

"Ketika banyak kios kosong, dampaknya juga ke mereka karena pasar menjadi tidak ramai. Sebaliknya, kalau lebih banyak yang terisi, pasar akan lebih hidup," tutur Nurrahmani menjelaskan urgensi verifikasi data kios kosong. Selain persoalan tata letak, aturan estetika mengenai larangan menggantung barang dagangan juga akan dicari jalan tengahnya tanpa mengorbankan kerapian pasar.

"Memang ada aturan yang melarang, tetapi bisa saja dicari solusi terbaik agar secara estetika tetap terjaga dan tidak melanggar aturan," katanya. Nurrahmani juga menepis tudingan bahwa pihaknya hanya mengandalkan media sosial dalam bersosialisasi dengan para pedagang selama ini.

"Jadi bukan semata-mata hanya melalui media sosial, tetapi ada berbagai saluran komunikasi yang kami gunakan," tandasnya. Rangkaian diskusi bertahap antara Disdag dan perwakilan pedagang ini dijadwalkan berlangsung sepanjang bulan ini dan direncanakan digelar langsung di area Pasar Pagi. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Pasar Pagi Samarinda