Malam Puncak Sastraloka Etam Betarsul ngan Bedandang, Tradisi Tutur Dikemas Menjadi Karya

Redaksi • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 15:05 WIB
TRADISI: Malam puncak Sastraloka Etam Betarsul ngan Bedandeng digelar di Temindung Creative Hub, Samarinda, Sabtu, 5 September 2026. ISTIMEWA
TRADISI: Malam puncak Sastraloka Etam Betarsul ngan Bedandeng digelar di Temindung Creative Hub, Samarinda, Sabtu, 5 September 2026. ISTIMEWA

PROKAL.CO, SAMARINDA - Malam puncak Sastraloka Etam Betarsul ngan Bedandeng digelar di Temindung Creative Hub, Samarinda, Sabtu (5/9/2026).

Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian Sastraloka yang diselenggarakan oleh Tirtonegoro Foundation selama satu bulan.

Sastraloka tahun ini secara khusus mengangkat tarsul dan bedandeng sebagai kekayaan tradisi lisan Kalimantan Timur (Kaltim). 
Baca Juga: Kemarau Panjang, Akses Sungai ke Mahulu Terputus

Tarsul dan bedandeng adalah dua bentuk kesenian tradisi lisan dan senandung tradisional yang berasal dari masyarakat Kutai.

Melalui tema Etam Betarsul ngan Bedendang, peserta tidak hanya diperkenalkan pada tradisi tutur, tetapi juga diajak untuk mengolahnya menjadi karya kreatif yang dapat diterima dan dinikmati oleh generasi masa kini.

Rangkaian kegiatan Sastraloka dimulai dari Loka Bertutur, Tarsul dan Bedandeng, kemudian dilanjutkan dengan Creative Lab, Produksi Konten Digital, hingga Festival Sastraloka. 

Selama proses tersebut, peserta mendapatkan ruang untuk belajar, berdiskusi, berlatih, mengeksplorasi gagasan, dan memproduksi karya berbasis tradisi.

Direktur Sastraloka, Dr Rahmad Azazi Rhomantoro, mengatakan Sastraloka merupakan festival sastra Kalimantan Timur (Kaltim) yang tahun ini telah memasuki penyelenggaraan kedua.

“Sastraloka merupakan festival sastra Kalimantan Timur yang tahun ini sudah digelar untuk kali kedua. Kami ingin festival ini menjadi ruang perjumpaan antara sastra, tradisi, seni, dan generasi muda,” ujar Azazi.

Baca Juga: Banyak Peluang, Borneo FC Takluk 0-1 dari Persija di Stadion Segiri

Ia menambahkan, pengangkatan tarsul dan dandeng merupakan upaya untuk menjaga tradisi tutur agar tetap hidup dan relevan.

“Tradisi tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus dituturkan, dipelajari, dan dikembangkan menjadi karya. Karena itu, peserta kami libatkan sejak proses belajar hingga menghasilkan pertunjukan,” katanya.

Malam puncak menghadirkan beragam pertunjukan tarsul dan dandeng, serta penampilan sejumlah seniman, termasuk Maestro Saiful Anwar.

Baca Juga: Truk Listrik Mulai Beroperasi di Tambang Kideco, Biaya Energi Diproyeksi Hemat 50 Persen

Kegiatan kemudian ditutup oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Kaltim, Asep Juanda. Sastraloka diharapkan terus menjadi ruang bagi perkembangan sastra, literasi, seni, dan pelestarian tradisi di Kaltim. Dari tutur menjadi karya. (*)

Editor : Faroq Zamzami
sastraloka tarsul dan bedandeng samarinda