Yayasan Jejak Pulang: Keselamatan 11 Orangutan Lebih Utama daripada Segera Kembali ke Hutan

Muhamad Yamin • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 19:52 WIB
Orangutan yang berhasil dievakuasi.
Orangutan yang berhasil dievakuasi.

PROKAL.CO, SAMBOJA — Sebelas individu orangutan yang dievakuasi dari kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kutai Kartanegara, ke kandang evakuasi Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalimantan Timur belum akan segera dikembalikan ke hutan.

Yayasan Jejak Pulang masih menunggu kondisi kawasan rehabilitasi benar-benar aman dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Keselamatan dan kesehatan orangutan menjadi pertimbangan utama sebelum satwa tersebut dikembalikan ke "sekolah orangutan".

General Manager Yayasan Jejak Pulang Rahmat Novirsal mengatakan, evakuasi terhadap 11 orangutan merupakan langkah yang harus dilakukan ketika kebakaran telah mendekati kawasan hutan tempat orangutan menjalani proses rehabilitasi.

"Evakuasi 11 individu orangutan ini suatu keniscayaan karena keselamatan orangutan penting bagi kami. Kami adalah yayasan yang merehabilitasi dan melepasliarkan orangutan," kata Rahmat.

Menurut dia, terdapat ketentuan bahwa orangutan harus dipindahkan ke tempat yang lebih aman apabila api sudah mencapai kawasan hutan. Proses evakuasi dilakukan melalui koordinasi dengan BKSDA Kaltim, Pusat Penelitian Hutan Berkelanjutan (P2HB), pengelola KHDTK Samboja, dan Manggala Agni.

Selain melakukan pemadaman, tim juga memindahkan 11 orangutan ke kandang evakuasi WRU BKSDA Kaltim.

Yayasan Jejak Pulang juga mendapat dukungan dari Balai Perhutanan Sosial yang meminjamkan kandang untuk menjadi tempat sementara bagi orangutan selama kondisi di kawasan hutan belum aman.

Rahmat mengatakan, belum ada batas waktu pasti kapan 11 orangutan tersebut akan dikembalikan ke kawasan rehabilitasi.

Keputusan itu akan bergantung pada hasil analisis dan antisipasi terhadap ancaman karhutla di KHDTK Samboja.

"Mengingat bahaya El Nino ke depan yang mungkin sampai 2027, bagi kami ini adalah sebuah maraton, bukan sprint lagi," ujarnya.

Ia mengatakan, orangutan baru akan dikembalikan apabila ancaman kebakaran terhadap kawasan rehabilitasi sudah dapat dipastikan tidak lagi membahayakan keselamatan satwa.

Setelah kondisi dinyatakan kondusif, 11 orangutan tersebut akan dikembalikan terlebih dahulu ke kandang karantina sebelum kembali menjalani aktivitas di sekolah orangutan.

"Kalau memang sudah kondusif dan sudah bisa kita kembalikan ke tempat alamnya, kita lakukan secepat-cepatnya," kata Rahmat.

Menurut dia, orangutan seharusnya tidak berada terlalu lama di dalam kandang. Program rehabilitasi Yayasan Jejak Pulang memang dirancang agar orangutan menghabiskan waktunya di lingkungan hutan sebelum akhirnya dilepasliarkan ke alam.

"Program kami adalah 24 jam di hutan, tujuh hari dalam seminggu tetap di hutan. Karenanya, orangutan itu tempatnya bukan di kandang, tetapi tetap di sekolah hutan sebelum dilepasliarkan ke alam," ujarnya.

Di sisi lain, pemindahan orangutan ke kandang evakuasi juga membutuhkan penanganan khusus. Kandang yang sudah lama tidak digunakan harus dibersihkan dan disanitasi sebelum ditempati.

Rahmat mengatakan, kondisi kandang menjadi perhatian karena kesehatan orangutan merupakan prioritas.

"Bagaimana kita tahu kandang yang sudah tidak ditempati sekian lama, ancaman juga orangutan. Kesehatan yang utama," katanya.

Selain menjaga kebersihan kandang, Yayasan Jejak Pulang juga menyiapkan stimulasi aktivitas untuk mengurangi kebosanan orangutan selama berada di tempat evakuasi.

Hal tersebut penting karena ruang gerak orangutan di kandang jauh lebih terbatas dibandingkan ketika mereka berada di sekolah orangutan di kawasan hutan.

"Kami mungkin perlu enrichment supaya orangutan kita senantiasa tidak kaku di sana atau tidak betah lagi. Mungkin perlu bantuan teman-teman caregiver untuk menstimulasi kegiatan yang ada di sana untuk tetap beraktivitas," ujar Rahmat.

Sebelumnya, dokter hewan Yayasan Jejak Pulang, drh Tetri Regilya, mengatakan kondisi kesehatan 11 orangutan tersebut secara umum masih baik setelah dua hari berada di kandang evakuasi. Belum ditemukan gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), meskipun observasi masih terus dilakukan.

Sebanyak 11 orangutan tersebut terdiri dari enam jantan dan lima betina, dengan rentang usia 6-15 tahun.

Perubahan pola perawatan dari lingkungan hutan ke kandang juga menjadi tantangan bagi Yayasan Jejak Pulang. Namun, Rahmat memastikan sumber daya manusia yang dimiliki yayasan siap menghadapi kondisi tersebut.

Saat ini, lebih dari 30 caregiver yang dimiliki yayasan telah mendapatkan pelatihan untuk menangani orangutan.

"Jumlah caregiver kami sudah terlatih di atas 30 orang. Artinya, mereka bisa berotasi, bisa bertukar shift menjaga orangutan selama di hutan menjadi berada di kandang," katanya.

Rahmat menilai, kondisi karhutla yang mengancam kawasan rehabilitasi menjadi tantangan baru yang harus dihadapi secara berkelanjutan.

Yayasan Jejak Pulang, kata dia, akan terus melakukan antisipasi dan menyesuaikan pola perawatan selama ancaman kebakaran masih ada.

Tujuan akhirnya tetap sama, yakni memastikan orangutan dapat kembali ke lingkungan hutan dan melanjutkan proses rehabilitasi sebelum dilepasliarkan ke habitat alaminya. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
orangutan