SAMARINDA — Musim kemarau panjang yang tak kunjung usai mulai memukul sektor pertanian Kota Samarinda. Sedikitnya 50 hektare lahan persawahan milik tiga kelompok tani di kawasan Serayu, Kelurahan Tanah Merah, kini dalam kondisi kritis dan terancam gagal panen total akibat krisis air ekstrem.
Kondisi ini terbilang tragis lantaran para petani di lokasi tersebut baru saja merampungkan proses penanaman bibit padi.
"Kalau untuk wilayah Serayu itu masih kekeringan. Kemungkinan bisa gagal panen. Air sudah tidak ada lagi di sana, sudah kering. Baru selesai tanam, langsung tidak ada hujan," ungkap Ketua Kelompok Tani Margo Utomo, Didi.
Merespons krisis tersebut, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda bergerak melakukan langkah darurat. BWS mulai memprioritaskan distribusi air tangki hingga menyalurkan sekitar 4.000 liter air serta mengeruk saluran irigasi sepanjang 200 meter yang tersumbat lumpur.
"Penyaluran air ini diprioritaskan bagi sawah-sawah yang sudah terlanjur ditanami, di mana petani sudah mengeluarkan modal untuk benih, bibit, dan pupuk, agar mereka tidak mengalami gagal panen," terang Kepala BWS Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo.
Kendati demikian, bantuan air darurat sejauh ini dinilai masih jauh dari kata cukup. Menurut Didi, pengiriman air satu tangki ke parit sawah tak sanggup membasahi puluhan hektare lahan yang kehausan tanpa adanya sumur cadangan.
"Kemarin dibantu air satu tangki dan dialirkan ke parit, tetapi cuma sekali. Kalau cuma satu tangki tentu kurang. Mungkin kalau bisa dialirkan sekitar 10 tangki, nanti anggota juga berupaya mencari mesin pompa," imbau Didi.
Melihat kondisi kemarau ekstrem yang masih berlangsung, pihak BWS mengimbau para petani—terutama yang mengandalkan sawah tadah hujan—untuk menunda masa tanam baru sampai kepastian pasokan air dari bendungan atau sumber hulu kembali stabil.
"Kegiatan penanaman baru hanya direkomendasikan bagi area persawahan yang memiliki kelayakan pasokan air dari bendungan yang memadai di wilayah hulunya," tegas Andri. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co