SAMARINDA — Pemerintah Kota Samarinda memperkuat langkah pengendalian inflasi di tengah status tanggap darurat kekeringan dan dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Melalui Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, kegiatan pasar murah digencarkan di berbagai wilayah yang paling terdampak kondisi cuaca ekstrem ini.
Kepala Disdag Samarinda, Nurrahmani, menegaskan bahwa pasar murah digelar untuk memastikan kondisi darurat tidak ikut mendorong lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat. Langkah ini sekaligus menjadi bentuk dukungan teknis Disdag terhadap penanganan dampak bencana.
"Semua pihak diaktifkan, termasuk Disdag. Kami mengondisikan jangan sampai kondisi ini menjadikan inflasi melonjak," kata Nurrahmani.
Rangkaian pasar murah telah menyasar sejumlah titik strategis, termasuk di Kecamatan Palaran, Samarinda Utara, Samarinda Ulu, hingga wilayah Sambutan seperti Kelurahan Makroman dan Pulau Atas. Penentuan lokasi pasar murah ini mengacu langsung pada laporan peta dampak kekeringan dari BPBD Samarinda.
"Terutama wilayah pinggiran kota yang paling terdampak kekeringan dan karhutla," jelas Nurrahmani mengenai fokus sebaran lokasi.
Untuk menyokong kegiatan ini, Disdag menyiapkan anggaran sekitar Rp20 juta yang difokuskan pada mobilisasi dan koordinasi. Pasokan komoditas utama didukung penuh oleh Bulog, jaringan distributor, hingga produsen air minum dalam kemasan (AMDK) lokal.
"Bahkan ada produsen AMDK lokal yang turut berpartisipasi, bersedia menyediakan barang dan jika tidak terjual dapat dikembalikan," ujar Nurrahmani.
Masyarakat bisa mendapatkan berbagai komoditas pangan seperti beras SPHP, telur, gula, ikan beku, hingga elpiji 3 kilogram dengan harga di bawah pasar. Elpiji subsidi, misalnya, dijual seharga Rp18.000 per tabung hanya dengan membawa fotokopi KTP dan Kartu Keluarga (KK).
Di tengah menurunnya kualitas udara akibat asap karhutla, Nurrahmani mengimbau warga untuk memanfaatkan fasilitas belanja terdekat ini. "Harapannya masyarakat bisa memanfaatkan pasar murah ini. Apalagi kalau kondisi udara seperti sekarang membuat masyarakat enggan bepergian jauh," pungkas Nurrahmani. (adv/diskominfosmd/i)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co