Kadar Klorida Sungai Mahakam Kritis, Tirta Kencana Kurangi Jam Operasional 10 IPA

Muhamad Yamin • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 14:15 WIB
Kabut asap melanda Samarinda.
Kabut asap melanda Samarinda.

 

PROKAL.CO, SAMARINDA — Perumda Tirta Kencana Kota Samarinda mengurangi jam operasional sejumlah instalasi pengolahan air (IPA) menyusul kondisi kadar klorida Sungai Mahakam yang bergerak dari status siaga ke kritis. Pengurangan operasional berlaku mulai Kamis (10/9/2026).

Asisten Manajer Humas Perumda Tirta Kencana Kota Samarinda Cevi Wahyudi mengatakan, pengurangan jam operasional dilakukan sebagai langkah penanganan kondisi air baku yang belum memungkinkan instalasi beroperasi secara normal.

“Untuk kadar klorida Sungai Mahakam, dari kondisi siaga bergerak ke kondisi kritis,” kata Cevi, Rabu (9/9/2026).

Berdasarkan pengumuman resmi Perumda Tirta Kencana, pengurangan jam operasional dilakukan di IPA Bantuas, IPA Palaran, IPA Pulau Atas, IPA Kalhol, IPA Sungai Kapih, IPA Selili, IPA Samarinda Seberang, IPA Tirta Kencana, IPA Cendana, dan IPA Gunung Lipan.

Perumda Tirta Kencana menyatakan, instalasi akan kembali beroperasi secara normal apabila kondisi kadar klorida sudah sesuai dengan standar.

Cevi mengimbau pelanggan yang airnya masih mengalir untuk menampung air terlebih dahulu. Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air selama kondisi kritis berlangsung.

Selain itu, Perumda Tirta Kencana menyiapkan sejumlah titik pengambilan air untuk membantu memenuhi kebutuhan warga, terutama untuk keperluan minum dan memasak.

Titik tersebut meliputi terminal IPA yang disiapkan di sejumlah instalasi, antara lain IPA Bantuas, IPA Palaran, IPA Pulau Atas, IPA Makroman, IPA Sungai Kapih, IPA Samarinda Seberang, IPA Tirta Kencana, IPA Palaran, IPA Gunung Lipan, dan IPA Bengkuring.

Perumda juga mencantumkan sejumlah lokasi sumber air alternatif, seperti sumur bor di kawasan Pampang, Jalan PM Noor, Jalan Simpang Pasir, serta sumur bor Bengkuring.

Dalam pengumumannya, Perumda Tirta Kencana menyampaikan tujuh langkah penanganan kondisi kritis. Pertama, mengaktifkan terminal mandiri berupa sumur bor warga yang dapat melayani pengambilan air untuk kebutuhan minum dan memasak.

Kedua, mengaktifkan terminal umum di masjid, mushala, tempat ibadah, atau kantor yang memiliki daya tampung air besar. Ketiga, menyiapkan terminal IPA di instalasi Perumda Tirta Kencana untuk pengambilan air bagi kebutuhan minum dan memasak.

Keempat, melaksanakan permintaan air tangki pengisi melalui RT atau lurah setempat secara terpusat di satuan tugas. Kelima, mengatur pengambilan air di terminal umum oleh lurah, RT, atau tokoh masyarakat setempat.

Keenam, mengajak tangki yang bersedia membantu kebutuhan warga untuk bergabung dalam satuan tugas. Ketujuh, Perumda mengimbau masyarakat menghemat air dan bersama-sama berdoa agar hujan segera turun di Kota Samarinda.  Pengumuman tersebut juga menyebutkan bahwa informasi penanganan kondisi kritis akan diperbarui pada Kamis (10/9/2026). (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
prokopim