Samarinda Terbungkus Kabut Asap Pekat: Matahari 'Hilang', Kualitas Udara Tembus Kategori Tidak Sehat

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 14:58 WIB
PARAH. Kondisi kabut asap menyelimuti Kota Samarinda.
PARAH. Kondisi kabut asap menyelimuti Kota Samarinda.

 
SAMARINDA — Kota Samarinda diselimuti kabut asap pekat sepanjang Rabu (16/9/2026). Fenomena ini membuat sinar matahari nyaris tidak terlihat sejak pagi hingga sore hari, menurunkan jarak pandang, serta memperburuk kualitas udara di Ibu Kota Kalimantan Timur tersebut hingga masuk dalam kategori tidak sehat.

Berdasarkan pemantauan BPBD Kota Samarinda, konsentrasi partikulat udara pada Rabu pagi menyentuh angka 161,7 PM. Koordinator Bidang Logistik dan Sarpras BPBD Samarinda, Ifran, mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar gedung.

"Kondisi udara kita berada di angka 161,7 PM dan sudah masuk kategori tidak sehat. Kami mengimbau masyarakat yang beraktivitas di luar rumah agar wajib menggunakan masker," ujar Ifran.

Pekatnya kabut asap kali ini dipicu oleh kebakaran lahan gambut yang kembali membara di sejumlah titik, salah satunya di kawasan irigasi. Karakteristik lahan gambut yang membakar bagian bawah permukaan tanah membuat api sulit dipadamkan dan memproduksi asap dalam jumlah jauh lebih besar.

Situasi ini sekaligus menandai hari ke-24 status tanggap darurat kebakaran dan kekeringan di Samarinda. Hujan ringan yang sempat mengguyur pada Rabu pagi dinilai belum mampu meredakan potensi titik api.

"Hari ini bisa dibilang yang terparah, matahari sampai tidak kelihatan sama sekali. Api di lahan gambut merambat di bawah tanah, jadi asapnya sangat dominan dan mengganggu kesehatan," kata Ifran menambahkan.

Kepala BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, membenarkan adanya penurunan kualitas udara menuju tren tidak sehat. Selain dampak kebakaran lahan, dinamika atmosfer turut memperparah penumpukan asap di lapisan bawah.

"Terjadi fenomena lapisan inversi di atas yang menahan pergerakan udara ke atas. Dampaknya, asap dari kebakaran lahan tertahan di bawah dan memicu suasana berkabut pekat seperti mendung," terang Riza.

Meski demikian, Riza meluruskan bahwa kabut asap ini bukan disebabkan oleh Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang sedang berjalan. Pada hari yang sama, tim OMC telah menerbangkan dua sorti penyemaian awan di wilayah Kutai Kartanegara dan Kutai Timur untuk memancing hujan di titik potensial.

Kondisi ini juga mulai memengaruhi sektor transportasi udara. Di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda, jarak pandang tercatat menurun di kisaran 1.000 hingga 1.500 meter. Namun hingga Rabu siang, operasional penerbangan dilaporkan masih berjalan normal tanpa ada pembatalan jadwal. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kabut asap