Bertahun-tahun Diintai "Pengagum Rahasia", Penyiar Radio di Samarinda Jadi Korban Teror Obsesif

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 07:50 WIB
Merasa diteror dan membuatnya khawatir, FN melaporkan seorang pria berinisial AP ke Polresta Samarinda.
Merasa diteror dan membuatnya khawatir, FN melaporkan seorang pria berinisial AP ke Polresta Samarinda.

SAMARINDA – Malang nian nasib yang dialami FN (31), seorang penyiar radio sekaligus pemandu acara (MC) di Samarinda. Hidupnya selama bertahun-tahun diliputi kecemasan dan tekanan psikologis hebat akibat aksi penguntitan (stalking) yang dilakukan oleh seorang pria berinisial AP (40). Padahal, FN sama sekali tidak mengenal maupun memiliki hubungan khusus dengan pelaku.

Merasa keselamatan dan ketenangannya terus terancam, FN akhirnya resmi melaporkan tindakan melampaui batas AP ke Polresta Samarinda pada Senin (14/9/2026).

Aksi meneror ini diakui FN telah terjadi sejak pertengahan 2022. AP yang bertindak Bak "pengagum rahasia" secara berlebihan terus-menerus membombardir FN dengan pesan singkat, membuat berbagai akun media sosial palsu, hingga mendatangi lokasi aktivitas korban.

“Dari awal dia itu sudah meneror saya dari tahun 2022. Sudah pernah saya blokir, sudah saya tegur, sudah saya chat, terus juga sudah tidak saya hiraukan sama sekali,” ungkap FN saat memberikan keterangan.

Hal yang membuat FN makin tertekan adalah sikap berlebihan AP yang seolah-olah memperlakukannya seperti kekasih. AP bahkan berani menyambangi tempat kerja FN di salah satu stasiun radio swasta. “Orang ini berani datang ke kantor dan masuk. Kemudian menanyakan nomor telepon, kemudian menanyakan keberadaan saya. Terus besoknya datang lagi, sampai menunggu saya,” kata FN.

Kepanikan FN memuncak ketika ia sempat berhadapan langsung dengan pelaku di area kantor.

“Orang itu cuma buka pintu terus dia nyengir, setelah itu dia pergi. Saya syok, terus saya langsung lari menghampiri temen saya di dalam karena ketakutan,” tuturnya menceritakan momen traumatik tersebut.

Tak berhenti di tempat kerja, AP yang diduga telah mengantongi alamat rumah FN juga berani menyambangi kediaman korban dengan wajah tertutup helm. Gerak-gerik mencurigakan AP terekam jelas oleh kamera pengawas (CCTV) rumah FN. “Baju yang dikenakannya sama seperti saat saya temukan di 6 September 2026,” jelas FN.

Ironisnya, ulah AP sebenarnya sempat dilaporkan ke pihak kepolisian pada Maret 2025. Saat itu kedua pihak telah dimediasi dan AP diminta membuat surat pernyataan resmi berhaluan hukum untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya. Namun, janji di atas kertas tersebut diabaikan begitu saja hingga memicu ketakutan berulang pada korban.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kasi Humas Polresta Samarinda, Ipda Arie Soeharyadi, membenarkan adanya laporan yang dilayangkan oleh FN terkait dugaan penguntitan dan teror tersebut. “Sudah dilaporkan dan saat ini sedang dalam penanganan rekan-rekan di Satreskrim,” tandas Arie singkat. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
tera samarinda