PROKAL.CO, SAMARINDA — Dari mana asap tebal yang menyelimuti Samarinda berasal? Pertanyaan itu menjadi penting setelah konsentrasi partikulat di udara kota ini melonjak hingga 367,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Kamis (17/9/2026).
Sehari sebelumnya, konsentrasi PM2.5 yang terukur di Fakultas Teknik Universitas Mulawarman (Unmul) mencapai 210,4 µg/m³ pada pukul 16.00 Wita. Angka tersebut sudah masuk kategori sangat tidak sehat.
Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Unmul, Juli Nurdiana, mengatakan peningkatan PM2.5 diduga berkaitan dengan adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Samarinda serta pergerakan asap yang terdeteksi di Kalimantan Timur.
Namun, sumber asap tidak bisa langsung ditunjuk hanya berdasarkan keberadaan kebakaran di sekitar kota.
Untuk menjawab dari mana asap berasal, sejumlah data harus dibaca secara bersamaan. Di antaranya lokasi hotspot, citra sebaran asap, arah dan kecepatan angin, serta pola kenaikan konsentrasi PM2.5 di Samarinda.
"Attribution sumber asap perlu dicocokkan dengan hotspot, citra sebaran asap, arah dan kecepatan angin, serta konsentrasi PM2.5," ujar Juli.
Petunjuk dari Loa Janan dan Muara Badak
Dalam beberapa hari terakhir, kebakaran tercatat terjadi di sekitar Samarinda, antara lain di Batuah, Kecamatan Loa Janan, serta wilayah Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Dua wilayah tersebut menjadi bagian dari petunjuk yang perlu dicocokkan dengan pola pergerakan asap menuju Samarinda.
Juli mengatakan, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), secara umum asap berpotensi bergerak menuju Samarinda. Arah angin kemudian menjadi faktor penting untuk menjelaskan bagaimana asap dari wilayah sumber dapat mencapai kota.
Dengan demikian, lokasi kebakaran belum otomatis dapat disebut sebagai sumber asap Samarinda. Diperlukan kesesuaian antara lokasi kebakaran dan pergerakan massa udara pada waktu yang sama.
Kondisi atmosfer juga turut menentukan apakah asap segera menyebar atau justru tertahan di suatu wilayah.
Menurut Juli, tutupan awan dan kondisi atmosfer dapat menghambat penyebaran asap. Akibatnya, partikulat dapat terakumulasi dan membentuk haze atau kabut asap yang lebih pekat.
"Atmosfer serta tutupan awan dapat menghambat penyebaran dan menyebabkan kabut asap atau haze tersebut terakumulasi," katanya.
Mengapa Asap Menebal?
Pola waktu kenaikan PM2.5 juga dapat menjadi petunjuk lain.
Juli menjelaskan, konsentrasi PM2.5 biasanya meningkat pada pagi dan sore hari. Pada pagi hari, peningkatan dapat terjadi karena asap yang terakumulasi sepanjang malam.
Konsentrasi kemudian cenderung menurun pada siang hari ketika kondisi atmosfer membantu penyebaran partikulat.
Namun, menjelang sore, perubahan arah angin dan keberadaan sumber asap dapat kembali menyebabkan partikulat terakumulasi.
Pola tersebut penting untuk dibandingkan dengan waktu terjadinya kebakaran dan arah pergerakan asap. Jika kenaikan konsentrasi PM2.5 di Samarinda berulang bersamaan dengan arah angin dari wilayah tertentu yang memiliki titik kebakaran, wilayah tersebut menjadi petunjuk yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Sebaliknya, keberadaan hotspot saja belum cukup untuk memastikan sumber asap.
Konsentrasi Mencapai 367,7 µg/m³
Persoalan kini menjadi lebih serius karena konsentrasi partikulat di Samarinda terus meningkat.
Pada Rabu sore, alat pemantauan di Fakultas Teknik Unmul mencatat PM2.5 sebesar 210,4 µg/m³. Pada Kamis, konsentrasi partikulat disebut telah mencapai 367,7 µg/m³.
Kenaikan tersebut menunjukkan semakin tingginya beban partikulat di udara Samarinda.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik yang membuat frekuensi dan kedalaman pernapasan meningkat. Penggunaan masker ketika udara berasap juga dapat membantu mengurangi paparan partikulat halus.
Pemerintah Kota Samarinda dan dinas kesehatan sebelumnya telah mengimbau masyarakat mengurangi paparan asap.
Namun, selain memberi imbauan kepada masyarakat, informasi mengenai asal dan arah pergerakan asap juga menjadi penting.
Juli berharap pemerintah secara berkala menyampaikan hasil pemantauan kualitas udara dan langkah mitigasi kepada masyarakat. Edukasi mengenai pencegahan karhutla dan pembakaran sampah juga perlu diperkuat.
Dengan konsentrasi PM2.5 yang telah mencapai 367,7 µg/m³, investigasi asal asap menjadi semakin mendesak. Hotspot, citra satelit, arah angin, lokasi kebakaran, dan data kualitas udara perlu dibaca sebagai satu rangkaian untuk menjawab apakah asap berasal dari sekitar Samarinda atau terbawa dari wilayah lain di Kalimantan Timur. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co