Udara Samarinda Masih Berbahaya bagi Aktivitas Luar Ruangan

Muhamad Yamin • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 11:20 WIB
Kondisi terkini kualitas udara di persimpangan Jl KH Wahid Hasyim dan Jl PM Noor Samarinda
Kondisi terkini kualitas udara di persimpangan Jl KH Wahid Hasyim dan Jl PM Noor Samarinda

PROKAL.CO, SAMARINDA — Kualitas udara Kota Samarinda, Kalimantan Timur, masih berada pada kategori sangat tidak sehat pada Jumat (18/9/2026) pagi. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 200,5 mikrogram per meter kubik pada pukul 08.00 WIB berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan puncak konsentrasi pada dini hari. Namun, kualitas udara masih jauh dari kondisi sehat. 

Data pada laman BMKG menunjukkan konsentrasi PM2.5 Samarinda meningkat sejak tengah malam. Pada pukul 00.00, konsentrasi berada sekitar 150 µg/m³. Angka itu terus meningkat dan mencapai sekitar 240 µg/m³ pada pukul 03.00.

Kondisi memburuk pada pukul 04.00 ketika konsentrasi menembus sekitar 340 µg/m³, atau masuk kategori berbahaya. Konsentrasi masih berada di atas ambang berbahaya pada pukul 05.00 dan 06.00.

Setelah itu, konsentrasi mulai menurun. Pada pukul 07.00 tercatat sekitar 220 µg/m³ dan menjadi 200,5 µg/m³ pada pukul 08.00.

Lebih lanjut,  kondisi asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Timur dipengaruhi tidak hanya oleh sumber kebakaran, tetapi juga kondisi atmosfer. Salah satu faktor yang teridentifikasi adalah adanya lapisan inversi yang menyebabkan udara dan asap tertahan di lapisan atmosfer.

Dan potensi pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Kaltim dinilai cukup terbuka. Namun, keberadaan lapisan inversi menyebabkan pergerakan vertikal udara menjadi terbatas. Kondisi tersebut membuat asap yang berada di permukaan cenderung tertahan sehingga konsentrasi asap dapat meningkat di sejumlah lokasi.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III BMKG Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, menyampaikan bahwa keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan menjadi salah satu harapan dalam membantu memperbaiki kondisi udara.

“Kami berharap awan yang berpotensi dapat menurunkan hujan,” kata Riza dalam keterangan resminya hari Kamis. 

Dampak memburuknya kualitas udara juga telah masuk ke aktivitas pendidikan. Pemerintah Kota Samarinda menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada 17–19 September 2026 untuk jenjang PAUD, TK, SD, dan SMP. Kebijakan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi kabut asap dan kualitas udara di Samarinda.

Dengan demikian, buruknya kualitas udara tidak lagi sekadar menjadi persoalan lingkungan. Kondisi tersebut telah memengaruhi aktivitas harian masyarakat, termasuk proses belajar-mengajar. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
samarinda