Kemarau Panjang Picu Orang Utan Keluar dari Habitatnya, 13 Individu Diselamatkan di Kaltim

Muhamad Yamin • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 06:55 WIB
Tim rescue lakukan penyelamatan orangutan di Kecamatan Muara Bengkal Kutai Timur. Foto oleh CAN (Conservation Action Network )
Tim rescue lakukan penyelamatan orangutan di Kecamatan Muara Bengkal Kutai Timur. Foto oleh CAN (Conservation Action Network )

PROKAL.CO, SAMARINDA — Kemarau panjang yang melanda Kalimantan Timur sejak pertengahan 2026 meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar, khususnya orang utan. Berkurangnya sumber pakan dan air membuat sejumlah orang utan keluar dari habitatnya untuk mencari makanan.

Direktur dan Founder Conservation Action Network (CAN) Paulinus Kristanto mengatakan, sejak Juli 2026 sedikitnya 13 individu orangutan telah diselamatkan akibat kondisi yang berkaitan dengan kemarau. “Yang pertama adalah kekurangan sumber pakan. Kemudian yang kedua adalah sumber air,” kata Paulinus, Kamis 24 September 2026. 

Salah satu kasus terjadi pada seekor orang utan jantan berukuran besar yang beberapa kali terlihat di kawasan jalan hauling PT SRH Kecamatan Muara Bengkal Kutai Timur. Kemunculan satwa tersebut dilaporkan masyarakat kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.

Tangkapan layar orangutan yang keluar dari habitatnya hendak mencari minum dan makan akibat musim kekeringan kemarau di Muara Bengkal Kutai Timur
Tangkapan layar orangutan yang keluar dari habitatnya hendak mencari minum dan makan akibat musim kekeringan kemarau di Muara Bengkal Kutai Timur

 Tim BKSDA Kaltim bersama CAN sejak Juli 2026 kemudian melakukan pencarian. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil selama beberapa pekan.

Orang utan itu kembali ditemukan pada 17 September 2026 ketika berada di tepi jalan. Tim penyelamat segera mengevakuasinya dan melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan. Usia orangutan diperkirakan 25 tahun dengan berat 51,6 kilogram. 

Tim rescue lakukan penyelamatan orangutan di Kecamatan Muara Bengkal Kutai Timur. Foto oleh CAN (Conservation Action Network )
Tim rescue lakukan penyelamatan orangutan di Kecamatan Muara Bengkal Kutai Timur. Foto oleh CAN (Conservation Action Network )

 Setelah menjalani observasi medis, kondisi orang utan tersebut dinilai cukup baik untuk dipindahkan ke habitat yang lebih aman. Tim kemudian berkoordinasi dengan PT RHOI (Restorasi Habitat Orangutan Indonesia) dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

Sehari kemudian, 18 September, orang utan tersebut berhasil ditranslokasi dan dilepasliarkan ke kawasan hutan yang lebih aman, di Hutan Kehjeh Sewen Kecamatan Muara Wahau Kutai Timur. 

Paulinus mengatakan, kemunculan orang utan di sekitar jalan juga dapat dipengaruhi oleh perilaku manusia. Pemberian makanan kepada satwa liar, meskipun hanya sekali, dapat membuat satwa mengingat lokasi tersebut sebagai sumber makanan.

“Kalau dia pernah terlihat di jalan kemudian ada orang yang memberi makan sekali saja, dia akan mengingat bahwa kalau menunggu di jalan, dia bisa mendapatkan makanan,” ujarnya.

Tim rescue lakukan penyelamatan orangutan di Kecamatan Muara Bengkal Kutai Timur. Foto oleh CAN (Conservation Action Network )
Tim rescue lakukan penyelamatan orangutan di Kecamatan Muara Bengkal Kutai Timur. Foto oleh CAN (Conservation Action Network )

 

Kasus lain terjadi pada seekor orang utan jantan yang menjadi perhatian setelah video yang direkam operator excavator beredar luas. Setelah video tersebut viral, BKSDA Kaltim bersama sejumlah mitra konservasi, termasuk CAN, menelusuri keberadaan satwa tersebut.

Pada 14 September 2026, orang utan itu ditemukan di Desa Menamang Kanan, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara. Berbeda dengan orang utan sebelumnya yang dapat langsung dipindahkan ke habitat yang lebih aman, satwa ini harus menjalani rehabilitasi terlebih dahulu.

Paulinus mengatakan, hasil pemeriksaan menunjukkan orang utan tersebut mengalami malnutrisi berat. Kondisi tubuhnya berada pada skor 1 dari 5 dan mengalami dehidrasi parah. “Tulang rusuknya sangat kelihatan, mengindikasikan sangat kurus,” kata Paulinus.

Orang utan tersebut kemudian dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam yang dikelola CAN di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau. Saat tiba di pusat rehabilitasi, kondisinya sangat lemah. Satwa tersebut hanya mampu berjalan beberapa meter dan mengalami dehidrasi berat.

Ia juga belum langsung mau makan. Menurut Paulinus, pada hari-hari awal orang utan tersebut hanya mau minum. Satwa baru mulai makan pada hari keempat setelah berada di PRS Long Sam.

Tangkapan layar orangutan yang keluar dari habitatnya hendak mencari minum dan makan akibat musim kekeringan kemarau di Muara Bengkal Kutai Timur
Tangkapan layar orangutan yang keluar dari habitatnya hendak mencari minum dan makan akibat musim kekeringan kemarau di Muara Bengkal Kutai Timur

Kondisi tersebut, menurut Paulinus, menunjukkan beratnya dampak kekurangan air dan pakan akibat kemarau ekstrem. “Masih butuh waktu untuk memperbaiki kondisi fisik orang utan tersebut. Karena memang sangat kurus dan dehidrasi, perbaikan nutrisi menjadi kunci dalam proses rehabilitasi,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya kasus konflik satwa liar, Paulinus memastikan ketersediaan pakan dan air untuk satwa yang berada di PRS Long Sam masih mencukupi. Menurut dia, sumber air di kawasan pusat rehabilitasi masih tersedia. Tim juga masih dapat memenuhi kebutuhan pakan melalui pembelian maupun distribusi secara berkala.

“Ketersediaan pakan dan minuman untuk semua satwa di PRS Long Sam saat ini cukup aman,” katanya.Kondisi tersebut juga membuat pihak pengelola belum perlu memindahkan orang utan dari pulau-pulau rehabilitasi ke kandang karena sumber air di kawasan tersebut masih mencukupi.

Paulinus mengimbau masyarakat tidak memberi makan orang utan atau satwa liar lainnya ketika menemukan mereka berada di sekitar permukiman maupun jalan.

Masyarakat yang menemukan orang utan atau satwa liar dalam kondisi tidak biasa juga diminta segera melaporkannya kepada BKSDA Kalimantan Timur agar dapat ditangani oleh petugas dan mitra konservasi. “Untuk semuanya, masyarakat yang menemukan konflik orang utan atau temuan satwa liar lainnya dapat melaporkan ke call center BKSDA Kalimantan Timur,” kata Paulinus. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
orangutan