PROKAL.CO, SAMARINDA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Jalan Pelita 8, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, belum mereda. Kebakaran dilaporkan terjadi di sejumlah titik berbeda selama empat hari terakhir dan terus meluas ke area sekitar.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso mengatakan, titik kebakaran di Jalan Pelita 8 terus berpindah dan meluas dari area yang sebelumnya terbakar.
"Kebakaran di Jalan Pelita 8 berbeda-beda titiknya dan menyamping dari bekas kebakaran sebelumnya. Bahkan, kebakaran menyeberang Jalan Sultan Sulaiman di dekat gardu PLN," kata Suwarso, Senin (5/10/2026).
Api yang membakar lahan hingga mendekati Jalan Sultan Sulaiman juga mengganggu jarak pandang pengendara yang melintas. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena aktivitas kendaraan di ruas jalan tersebut cukup padat.
BPBD Samarinda mencatat, setidaknya dua kali kebakaran lahan terjadi di kawasan tersebut pada Minggu (4/10/2026). Kebakaran pertama dilaporkan sekitar pukul 15.00 Wita, sedangkan kebakaran kedua terjadi sekitar pukul 23.00 Wita di lokasi yang berada lebih ke dalam.
"Kebakaran pertama terjadi pada pukul 15.00 Wita. Kemudian, kebakaran kedua terjadi pukul 23.00 Wita yang lokasinya berada di dalam," ujar Suwarso.
Kualitas udara memburuk
Kondisi kebakaran tersebut berlangsung ketika kualitas udara Samarinda berada dalam kategori tidak sehat.
Berdasarkan data konsentrasi partikulat halus (PM2,5) Samarinda pada Senin (5/10/2026), konsentrasi PM2,5 pada pukul 17.00 Wita mencapai 112,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Data tersebut menempatkan kualitas udara dalam kategori tidak sehat.
Grafik pemantauan sepanjang hari menunjukkan konsentrasi PM2,5 berada pada level relatif tinggi sejak dini hari. Konsentrasi tercatat sekitar 60 µg/m³ pada pukul 00.00 Wita dan sempat turun hingga sekitar 43 µg/m³ pada pukul 10.00 Wita.
Setelah itu, konsentrasi kembali meningkat. Pada pukul 14.00 Wita berada sekitar 65 µg/m³, kemudian naik menjadi sekitar 79 µg/m³ pada pukul 15.00 dan 16.00 Wita. Pada pukul 17.00 Wita, angkanya melonjak menjadi 112,5 µg/m³.
Peningkatan konsentrasi PM2,5 tersebut terjadi bersamaan dengan masih berlangsungnya sejumlah kebakaran lahan di Samarinda. Namun, data kualitas udara tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh peningkatan partikulat berasal dari kebakaran di Jalan Pelita 8.
Karhutla capai 608,18 hektar
Suwarso mengatakan, luas lahan yang terdampak karhutla di Samarinda hingga Senin telah mencapai 608,18 hektar. Kebakaran tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Palaran, Sambutan, Samarinda Utara, dan beberapa kecamatan lainnya.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian BPBD adalah kawasan Pulau Atas. Pemadaman di wilayah tersebut relatif sulit karena karakteristik lahan yang mudah terbakar.
"Karena lahan terbakar di Pulau Atas ini sebagian lahan gambut, semak belukar yang telah lama kering. Relawan dan petugas kami ke lokasi menemukan bahkan ada lapisan batubara di bawahnya," ujar Suwarso.
Kondisi lahan yang kering dan adanya material mudah terbakar di bawah permukaan membuat api berpotensi bertahan dan menjalar meskipun kobaran di permukaan telah dipadamkan.
BPBD Samarinda masih melakukan pemantauan dan penanganan di sejumlah titik kebakaran. Masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran juga perlu mewaspadai asap dan penurunan kualitas udara, terutama ketika konsentrasi partikulat halus meningkat. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co