Mengenal Lebih Dalam Kota Kita dengan Cara yang Sederhana

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 20:41 WIB
Herman YB Tukan. ISTIMEWA
Herman YB Tukan. ISTIMEWA

Oleh: Herman YB Tukan, S.Sos,  M.Si

(Pranata Humas Ahli Muda Penyetaraan, Dinas Komunikasi dan Informatika/Diskominfo Samarinda)

PROKAL.CO-Ada pemandangan yang semakin mudah ditemukan di Kota Samarinda. Pagi maupun sore, ruang-ruang publik mulai dipenuhi warga yang berjalan kaki, berlari kecil, atau sekadar bergerak menikmati udara kota.

Mereka datang dari berbagai latar belakang. Ada pegawai pemerintah, pekerja swasta, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat umum.

Menariknya, aktivitas itu tidak hanya berlangsung pada akhir pekan. Di tengah hari kerja pun, ketika sebagian orang baru saja menuntaskan rutinitas pekerjaan, kelompok-kelompok jogging mulai terlihat di berbagai sudut kota.

Fenomena sederhana ini sebenarnya menyimpan makna yang lebih besar. Ada perubahan cara masyarakat memandang kesehatan, waktu luang, dan ruang publik.

Samarinda yang terus berbenah dan menyediakan semakin banyak ruang bagi aktivitas warga perlahan menghadirkan wajah kota yang berbeda.

Ruang publik tidak lagi hanya menjadi tempat untuk lewat, tetapi juga menjadi tempat untuk bergerak, bersosialisasi, berinteraksi, dan menjaga kesehatan.

Baca Juga: Dishub Samarinda Pulihkan Penerangan Jembatan Achmad Amins, Dipasang CCTV untuk Pengawasan

Dalam konteks kota yang mengusung visi sebagai pusat peradaban, tumbuhnya budaya olahraga tentu merupakan kabar baik. Peradaban sebuah kota bukan hanya tentang gedung tinggi, infrastruktur megah, atau kemajuan teknologi.

Ia juga tercermin dari kualitas hidup masyarakatnya. Masyarakat yang sehat, aktif, produktif, dan memiliki ruang untuk berinteraksi adalah bagian penting dari wajah kota yang beradab.

Saya sendiri menjadi bagian dari fenomena kecil ini. Bukan semata karena mengikuti tren. Apalagi karena takut ketinggalan atau istilah anak zaman sekarang fear of missing out (FOMO) rasa khawatir tertinggal dari sesuatu yang sedang ramai dilakukan orang lain.

Kalau boleh jujur, mungkin ada sedikit pengaruh dari lingkungan. Melihat rekan-rekan kantor semakin ramai berolahraga, membuat niat yang sebelumnya hanya ada di kepala menjadi lebih mudah diwujudkan.

Namun, alasan utamanya jauh lebih sederhana, yakni kesehatan. Memasuki usia kepala empat, membuat saya semakin sadar bahwa menjaga kesehatan tidak bisa terus ditunda.

Tubuh mungkin masih mampu diajak bekerja dalam ritme yang padat, tetapi ia tetap membutuhkan perhatian.

Bekerja keras penting. Menyelesaikan tanggung jawab juga penting. Tetapi menjaga tubuh agar tetap sehat dan bugar tidak kalah penting. Sebab, kesehatan adalah modal untuk menjalankan semuanya.

Persoalannya, hampir semua orang sebenarnya punya niat untuk berolahraga. Yang sering sulit adalah memulainya. Kita kerap mengatakan, “Nanti saja."

Nanti setelah pekerjaan selesai. Nanti ketika ada waktu luang. Nanti saat akhir pekan. Nanti ketika badan sudah tidak terlalu lelah.
Masalahnya, “nanti” sering kali tidak pernah benar-benar datang.

Saya pun pernah mengalaminya. Sesekali mencoba berolahraga bersama keluarga pada akhir pekan di sekitar kompleks perumahan. Tetapi karena tidak dilakukan secara rutin, semangat itu perlahan kembali mengendur.

Karena itu, keberadaan teman-teman yang memiliki kebiasaan olahraga menjadi semacam pemantik. Ada teman, ada kelompok, ada waktu yang disepakati. Kita tidak lagi berhadapan dengan olahraga sebagai aktivitas yang harus dilakukan sendirian. Ada kebersamaan yang membuat langkah terasa lebih ringan.

Sore hari setelah bekerja kemudian menjadi waktu yang menarik. Kami menyusuri jalan-jalan kota. Kadang melalui jalur yang datar. Sesekali harus melewati tanjakan. Bahkan, masuk ke gang-gang kecil di sekitar permukiman warga yang mungkin selama ini tidak pernah saya kenal.

Baca Juga: BKAD Klaim Utang Pihak Ketiga PPU 99,58 Persen Sudah Lunas

Di titik ini, jogging ternyata tidak lagi sekadar soal olahraga. Ada silaturahmi di dalamnya. Ada percakapan ringan. Ada tawa. Ada pemandangan kota yang selama ini luput dari perhatian.

Bahkan, bagi saya, ada semacam wisata kecil di tengah hiruk-pikuk Samarinda. Gang-gang sempit yang sulit dilalui kendaraan, termasuk sepeda motor, justru menjadi bagian menarik dari perjalanan. Dari sana kita melihat sisi kota yang berbeda.

Rumah-rumah warga, aktivitas masyarakat, jalan kecil, tanjakan, hingga sudut-sudut permukiman yang sebelumnya terasa asing.

Kita seperti mengenal kembali kota sendiri dengan cara yang lebih sederhana.
Mungkin inilah salah satu manfaat lain dari budaya jogging yang sedang tumbuh di Samarinda. Ia tidak hanya membuat tubuh bergerak, tetapi juga membuat kita lebih dekat dengan lingkungan.

Kita menjadi lebih mengenal ruang publik. Lebih mengenal lingkungan tempat tinggal. Lebih sering bertemu orang lain. Dan yang tidak kalah penting, lebih sadar bahwa kesehatan membutuhkan tindakan, bukan sekadar niat.

Karena itu, jika fenomena jogging ini disebut sebagai tren, saya kira tidak masalah. Kalaupun ada sedikit unsur FOMO, biarlah FOMO kali ini membawa kita pada sesuatu yang positif.

Takut ketinggalan berolahraga tentu jauh lebih baik daripada takut ketinggalan tren yang tidak memberi manfaat. Tetapi pada akhirnya, olahraga bukan tentang tren.

Bukan pula tentang siapa yang paling jauh berlari atau paling banyak mengunggah aktivitasnya di media sosial.

Olahraga adalah tentang merawat diri. Tentang menyediakan sedikit waktu di tengah kesibukan untuk mendengarkan tubuh sendiri. Dan tentang menyadari bahwa hidup yang panjang akan jauh lebih bermakna jika dijalani dengan tubuh yang sehat dan pikiran yang tetap waras.

Baca Juga: Berau Berambisi Kirim Terasi sampai ke Luar Negeri  

Maka, ketika semakin banyak warga Samarinda memilih berjalan, berlari, dan bergerak di ruang-ruang publik kota, saya melihatnya sebagai sesuatu yang patut disyukuri. Samarinda sedang bergerak.

Bukan hanya kotanya yang berkembang, tetapi warganya juga mulai bergerak menjaga kualitas hidupnya.
Semoga kebiasaan sederhana ini terus tumbuh. Bukan sekadar menjadi tren sesaat, tetapi menjadi budaya.

Sebab kota yang sehat tidak hanya dibangun dengan beton dan aspal. Ia juga dibangun oleh manusia-manusia yang sehat, aktif, saling menyapa, dan peduli pada kualitas hidupnya.
Dan mungkin, dari langkah-langkah kecil itulah, sebuah peradaban besar dimulai. (*)

Editor : Faroq Zamzami
jogging samarinda