Atasi Genangan Air Jl Pangeran Antasari, Pemkot Samarinda Kaji Pemasangan Pipa Folder Langsung ke Su

Muhamad Yamin • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 23:47 WIB
Wali Kota Samarinda Andi Harun.
Wali Kota Samarinda Andi Harun.

PROKAL.CO, SAMARINDA - Pemerintah Kota Samarinda, Kalimantan Timur, mengkaji pembangunan saluran pembuangan air langsung ke Sungai Mahakam untuk mengurangi genangan di kawasan Jalan Pangeran Antasari dan sekitarnya. Salah satu opsi yang dipertimbangkan ialah pemasangan pipa berdiameter sekitar 800 milimeter dari kawasan Folder Air Gang Indra menuju Sungai Mahakam.

Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, rencana tersebut masih dalam tahap kajian teknis dan perhitungan kebutuhan anggaran. Ia menyampaikan hal itu seusai meninjau Folder Air Gang Indra, Jalan Pangeran Antasari, Samarinda, Selasa (13/10/2026).

Menurut Andi, skema yang sedang dipertimbangkan adalah mengalirkan air dari sekitar ujung rumah pompa menuju kawasan Jl Bangris, sebelum selanjutnya dibuang langsung ke Sungai Mahakam.

“Ini untuk mengantisipasi penumpukan air atau genangan yang besar di daerah folder setelah air terkirim dari kawasan Jl Bangris, Jl MT Haryono, dan sekitarnya. Pelan-pelan kita akan alirkan langsung ke Sungai Mahakam,” kata Andi.

Ia menjelaskan, penggunaan pipa berpotensi menjadi alternatif yang lebih hemat dibandingkan pembangunan saluran terbuka menggunakan konstruksi beton. Meski demikian, rencana tersebut tetap membutuhkan perhitungan teknis, terutama karena pipa akan dipasang di bawah parit.

Andi Harun meminta Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR menghitung kebutuhan teknis, termasuk diameter pipa dan biaya pemasangannya. Adapun kebutuhan pipa diperkirakan berdiameter minimal 800 milimeter.

“Kita belum bicara anggaran. Kita bicara dulu bahwa ini merupakan satu solusi atau rencana inovasi untuk pengendalian atau pengurangan genangan air di daerah Antasari,” ujarnya.

Selain penanganan genangan, Andi Harun menyoroti persoalan pemeliharaan folder air, termasuk pertumbuhan eceng gondok yang berpotensi kembali memenuhi kawasan penampungan air tersebut.

Menurut dia, keberadaan tumbuhan air itu membutuhkan penanganan berkelanjutan. Pemeliharaan harus dilakukan sepanjang tahun karena wilayah Samarinda cukup luas dan membutuhkan anggaran serta tenaga yang memadai.

Pemerintah kota juga memerlukan dukungan alat berat untuk mempercepat pembersihan dan pemeliharaan folder air. Saat ini, jumlah alat mekanis yang dimiliki pemerintah kota masih terbatas.

Walikota Andi Harun berharap perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Samarinda dan Kalimantan Timur dapat berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), terutama dalam bentuk bantuan alat berat jenis ekskavator.

Ia menyebut perusahaan galangan kapal, industri lainnya, perusahaan batu bara, dan pengusaha ponton sebagai pihak yang berpotensi ikut berkontribusi. Bantuan itu, menurut dia, dapat dilakukan secara bersama-sama melalui skema urunan.

“Daya dukung alat mekanis itu sangat besar. Pemerintah punya keterbatasan, tetapi tetap kita anggarkan,” kata Andi.

Pemerintah Kota Samarinda, lanjut dia, berencana menambah alat berat pada tahun depan apabila kemampuan keuangan daerah memungkinkan. Penambahan tersebut diharapkan dapat mendukung pemeliharaan folder air secara lebih optimal.

Andi Harun juga mengatakan, Samarinda telah memiliki sejumlah kolam retensi atau folder air, di antaranya Folder Air Hitam, Folder Air Gang Indra, dan folder di kawasan Jl HM Ardans.

Namun, pembangunan kolam retensi baru membutuhkan biaya besar. Ia memperkirakan pembangunan fasilitas dengan kapasitas tampung seperti Folder Air Gang Indra dapat mencapai Rp 200 miliar hingga Rp 300 miliar dengan harga saat ini. Salah satu komponen biaya yang besar ialah pembangunan tanggul.

Karena itu, pemerintah kota memilih mengoptimalkan fasilitas penampungan air yang sudah tersedia, sembari menyesuaikan program penanganan genangan dengan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Andi Harun mengatakan, kebijakan efisiensi anggaran dalam dua tahun terakhir turut menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur pengendalian banjir.

Menurut dia, optimalisasi folder air perlu berjalan beriringan dengan pemeliharaan rutin dan penguatan dukungan peralatan. Dengan demikian, kapasitas fasilitas yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal sembari pemerintah mengkaji alternatif teknis untuk mengurangi genangan di kawasan Jl P Antasari. (adv/diskominfo/smd)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
samarinda