SAMARINDA – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memperbanyak pelaksanaan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok sekaligus mengantisipasi penurunan daya beli masyarakat. Langkah ini dilakukan di tengah berkurangnya peredaran uang di daerah dan tren ekonomi yang masih berfluktuasi.Asisten II Sekretariat Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan Pemkot Samarinda telah meminta Dinas Perdagangan serta perangkat daerah yang menangani ketahanan pangan untuk menggencarkan operasi pasar di sejumlah wilayah.
Salah satu kegiatan dijadwalkan berlangsung di Loa Buah melalui kerja sama dengan Bank Indonesia (BI). Kegiatan tersebut juga melibatkan ritel untuk menyediakan bahan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat. “Makanya kita perbanyak operasi pasar. Kita sudah minta Disdag, kemudian Ketahanan Pangan untuk melakukan gerakan-gerakan operasi pasar yang kita lakukan,” ujar Marnabas ditemui awak media. Selasa (20/10/2026).
Menurutnya Marnabas, penurunan daya beli masyarakat menjadi salah satu kondisi yang perlu diantisipasi pemerintah. Berkurangnya Transfer ke Daerah (TKD) turut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi peredaran uang dan aktivitas ekonomi di daerah. Meski demikian, ia menegaskan pemerintah tidak boleh hanya mengeluhkan keadaan, melainkan harus mengambil langkah konkret untuk menghadapi tantangan ekonomi.
“Pak Wali menyampaikan, kita enggak boleh mengeluh. Kita berusaha bagaimana caranya keluar dari masalah-masalah yang kita hadapi ini. Mudah-mudahan di 2027 kita sudah bisa menikmati kondisi yang lebih baik,” Jelas Marnabas. Ia menegaskan, salah satu perhatian utama Pemkot Samarinda adalah mencegah inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat
“Untuk itu, pemantauan pergerakan harga dilakukan secara rutin. Data harga komoditas diperbarui setiap hari sekitar pukul 11.00 Wita dan menjadi salah satu dasar bagi pemerintah untuk menentukan langkah antisipasi,”tuturnya.
Menurutnya, pemerintah tidak ingin terlambat mengambil tindakan ketika harga sudah terlanjur melonjak atau stok barang mengalami kekosongan.
“Jangan sampai terjadi kekosongan dan terjadi kenaikan harga baru bergerak, kalah langkah. Makanya antisipasinya adalah melihat pergerakan harga itu,” Ucap Marnabas.
Ia menyebut daya beli masyarakat bersifat fluktuatif. Pada sejumlah barang konsumtif, seperti pakaian, kecenderungan penurunan daya beli mulai terlihat. Sementara untuk bahan pokok, pemerintah berupaya menjaga agar harga tetap stabil dan pasokan tersedia.
Selain operasi pasar, Pemkot Samarinda juga mendorong penguatan kerja sama perdagangan antar daerah untuk menjaga ketersediaan komoditas dan mengendalikan harga.
Ia mencontohkan, daerah yang mengalami surplus cabai dapat memasok kebutuhan ke wilayah lain yang mengalami kekurangan. Begitu pula pasokan bawang merah dari Pulau Jawa yang dapat membantu memenuhi kebutuhan pasar di Samarinda.
Upaya tersebut akan melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMD Varian Niaga, Bulog, serta jaringan ritel dan pasar modern. Sinergi ini diharapkan mampu memperlancar distribusi barang sehingga ketimpangan pasokan yang berpotensi memicu kenaikan harga dapat diantisipasi.
“Kalau di daerah lain ada komoditas yang berlebihan, itu bisa kita dorong untuk dikirim ke sini. Kerja sama antar daerah harus ditingkatkan,” ujarnya. Di sisi lain, Pemkot Samarinda juga memantau kondisi sektor pertanian di tengah musim kemarau. Dukungan berupa mesin pompa portabel disiapkan untuk membantu pengairan sawah dan perkebunan agar aktivitas produksi tetap berjalan. (adv/diskominfo/smd)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co