SAMARINDA – Santri dituntut tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memiliki wawasan luas, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Peran tersebut menjadi penting dalam menyiapkan generasi penerus menuju Indonesia Emas 2045.
Pesan itu disampaikan Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri saat membuka rangkaian Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Madrasah Darussalam International Boarding School (MDIBS), Jalan H.A.M. Rifaddin, Loa Janan Ilir, Selasa (20/10/2026) siang. Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, kegiatan yang diinisiasi Yayasan Masjid Raya Darussalam Samarinda bersama MDIBS tersebut menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran santri dalam menghadapi tantangan masa depan.
Ia menilai, tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks. Kemajuan teknologi membuka peluang besar untuk belajar dan berkarya, tetapi juga menuntut kemampuan menyaring informasi serta menjaga nilai-nilai moral di tengah perubahan zaman. Karena itu, ia mengingatkan agar peringatan Hari Santri tidak sebatas agenda tahunan, melainkan menjadi dorongan untuk melahirkan generasi yang kuat secara spiritual, matang dalam berpikir, dan nyata dalam pengabdian.
“Santri harus mampu membuktikan bahwa nilai-nilai agama bukan hanya dipahami dan dihafalkan, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku, cara berpikir, dan kontribusi bagi lingkungan. Di situlah ilmu menemukan maknanya,” Ungkap Saefuddin Zuhri.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya dilihat dari ijazah, prestasi akademik, atau penghargaan yang diraih. Lebih dari itu, kualitas seseorang tercermin dari kejujuran, kesantunan, tanggung jawab, serta kemampuannya menghormati orang tua dan guru.
Saefuddin Zuhri juga mengingatkan bahwa santri bukan sekadar penonton dalam perjalanan pembangunan bangsa. Mereka memiliki kesempatan dan tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi, hingga penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam arahannya, ia menitipkan tiga hal penting yang perlu menjadi pegangan para santri dalam mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Pertama, menjadikan ibadah dan akhlak sebagai fondasi kehidupan. Nilai tersebut harus terlihat dalam tindakan sehari-hari, termasuk saat menghadapi perbedaan pendapat, menyikapi keberhasilan, maupun menerima kegagalan.
Kedua, menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh dan berani memiliki cita-cita besar. Menurut Saefuddin, latar belakang pendidikan pesantren bukanlah batas untuk berkembang, melainkan modal untuk melangkah lebih jauh dengan tetap berpegang pada kejujuran, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap ilmu. Ketiga, memanfaatkan teknologi secara bijak dan produktif. Santri diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk memperluas wawasan, mengembangkan keterampilan, menguasai bahasa, menghasilkan karya, serta menyebarkan informasi yang mendidik.
“Jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita kehilangan arah. Gunakan teknologi untuk menambah pengetahuan, mengasah kemampuan, dan menghadirkan manfaat. Santri harus siap menghadapi perubahan tanpa meninggalkan prinsip dan akhlak,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjelaskan pentingnya keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan berpikir kritis perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral.
Ia turut mengapresiasi Yayasan Masjid Raya Darussalam Samarinda dan MDIBS yang terus berkomitmen mengembangkan pendidikan Islam dengan wawasan global. Ia berharap lembaga pendidikan tersebut mampu melahirkan generasi yang memiliki daya saing, terbuka terhadap perkembangan dunia, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman serta keindonesiaan.
“Pendidikan yang berkualitas tidak hanya mempersiapkan peserta didik untuk meraih kesuksesan pribadi, tetapi juga membentuk karakter yang mendorong mereka berkontribusi bagi kepentingan masyarakat luas,”tuturnya. Ia mengungkapkan pesantren dan lembaga pendidikan Islam memiliki ruang strategis untuk menyiapkan generasi yang mampu menyelaraskan kedalaman ilmu agama dengan kecakapan menghadapi perkembangan zaman.
Ia juga mengajak para santri menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup sekaligus menjaga adab terhadap orang tua, guru, ustaz, dan sesama dan menekankan bahwa kecerdasan dan keterampilan akan semakin bermakna apabila disertai kerendahan hati, toleransi, serta kesediaan untuk mengabdi. “Jadilah generasi yang tidak hanya membanggakan keluarga dan almamater, tetapi juga mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat. Samarinda dan Indonesia membutuhkan santri yang berilmu, berakhlak, terbuka terhadap kemajuan, serta siap bekerja nyata,” pungkasnya. (adv/diskominfo/smd)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co