PROKAL.CO, SAMARINDA — Kementerian Kehutanan menyalurkan bantuan sarana dan prasarana pemadam kebakaran hutan dan lahan kepada Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Tebangan Lembak, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Bantuan ini menjadi langkah antisipasi untuk mencegah kebakaran di area penggunaan lain (APL) meluas hingga ke kawasan Hutan Desa.
Kawasan sekitar Desa Tebangan Lembak, terutama di sepanjang koridor tambang, menghadapi ancaman kebakaran saat musim kemarau. Kondisi lahan yang kering dan berdebu meningkatkan risiko munculnya titik api yang dapat merambat ke kawasan Hutan Desa di bagian dalam, dekat aliran sungai.
Kepala Balai Perhutanan Sosial Kutai Kartanegara Mochlis mengatakan, bantuan tersebut diberikan setelah pihaknya memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tebangan Lembak menjadi salah satu lokasi prioritas karena memiliki kawasan Hutan Desa yang cukup luas.
”Kita mencoba memetakan juga ada potensi-potensi karhutla. Sehingga, di LPHD tersebut salah satu yang kita berikan bantuan sarpras karhutla. Tentu ini sebagai langkah antisipasi, dukungan kita kalau terjadi kebakaran, kita sudah berikan sarpras untuk melakukan penanganan,” kata Mochlis.
Bantuan yang disalurkan melalui Balai Perhutanan Sosial Kutai Kartanegara itu mencakup satu set pompa air, selang pemadam sepanjang 30 meter, konektor berbentuk Y, serta pompa punggung portabel atau jet shooter. Peralatan tersebut diharapkan membantu masyarakat menangani kebakaran, termasuk di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan.
Menurut Mochlis, penggunaan pompa air membutuhkan sumber air yang memadai. Karena itu, LPHD perlu mengidentifikasi sumber air terdekat berdasarkan lokasi dan sebaran titik api. Adapun pompa punggung dapat digunakan untuk menjangkau area yang lebih jauh dari akses kendaraan.
”Kalau alatnya saja kita beri tetapi tidak bisa menggunakan, kan susah juga. Makanya, semuanya kita dukung. Alatnya, sarprasnya ada, dan kebetulan sudah ada Masyarakat Peduli Api (MPA)-nya. Nanti kita aktifkan dan dalam waktu dekat kita fasilitasi lagi untuk pelatihannya,” ujar Mochlis.
Selain penyediaan peralatan, penguatan kapasitas masyarakat menjadi perhatian dalam upaya pencegahan karhutla di Tebangan Lembak. Regu MPA yang sebelumnya telah terbentuk diketahui sudah lama tidak aktif. Pemerintah desa berencana memperbarui keanggotaan regu tersebut dengan personel baru.
Satu regu MPA direncanakan beranggotakan 15 orang. Mereka akan mendapatkan pelatihan teknis penanganan kebakaran dengan dukungan Balai Manggala Agni dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Pelatihan juga akan difasilitasi bersama mitra, termasuk GIZ.
Mochlis mengatakan, keterampilan personel dalam menggunakan peralatan pemadam sama pentingnya dengan ketersediaan sarana dan prasarana. Dengan demikian, bantuan yang diberikan dapat digunakan secara efektif ketika terjadi kebakaran.
Di sisi lain, upaya pencegahan difokuskan pada wilayah di luar Hutan Desa yang berbatasan dengan kawasan tersebut. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, kondisi lahan di sekitar koridor tambang masih kering dan berpotensi menjadi sumber penyebaran api.
Mochlis menegaskan, langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini agar kebakaran di kawasan APL tidak menjalar ke Hutan Desa. Kawasan hutan yang berada lebih jauh ke dalam, di dekat sungai, menjadi bagian yang perlu dilindungi.
”Kita mengantisipasi jangan sampai rambatannya masuk ke Hutan Desa, sehingga upaya-upaya untuk pencegahannya itu perlu dilakukan. Jangan sampai menjalar ke wilayah Hutan Desanya,” kata Mochlis.
Penguatan LPHD dan pengaktifan kembali regu MPA diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman karhutla. Selain melindungi kawasan Hutan Desa, langkah ini juga diharapkan memperkuat peran masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan di tengah kondisi lahan yang rentan terbakar pada musim kemarau. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co