Saefuddin Zuhri Minta Penerapan Komposter di Samarinda Tak Sekadar Pengadaan Alat

Indra Zakaria • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 23:19 WIB
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri saat memimpin audiensi bersama PT Hambalang Kertajaya
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri saat memimpin audiensi bersama PT Hambalang Kertajaya

SAMARINDA – Upaya mengurangi timbunan sampah di Kota Samarinda dapat dimulai dari rumah tangga, salah satunya melalui pengolahan sampah organik menjadi pupuk. 

Namun, agar solusi tersebut benar-benar memberikan manfaat, penggunaan teknologi komposter perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, efektivitas penguraian, serta biaya operasional dalam jangka panjang.

Wakil Wali Kota Samarinda, H. Saefuddin Zuhri, S.E., M.M., menekankan pentingnya kajian menyeluruh sebelum penerapan komposter diperluas di lingkungan masyarakat. Hal itu disampaikannya saat menerima audiensi perwakilan PT Hambalang Kertajaya di Ruang Rapat Wakil Wali Kota, lantai III Balai Kota Samarinda, Kamis (22/10/2026). 

“Kita perlu memastikan komposter ini benar-benar efektif dan mudah digunakan masyarakat, bukan sekadar menyediakan alat,” Ungkap Saefuddin Zuhri. Kamis (22/10/2026). Salah satu aspek yang menjadi perhatian Saefuddin ialah penggunaan aktivator mikroba dalam proses pengomposan. Ia meminta penjelasan mengenai kebutuhan pemakaian bahan tersebut, ketepatan dosis, serta potensi biaya tambahan yang harus ditanggung masyarakat setelah membeli atau menerima komposter.

“Jangan hanya menghitung biaya pengadaan di awal. Kita juga harus mengetahui kebutuhan perawatan, bahan pendukung, dan biaya operasionalnya agar masyarakat tidak terbebani,” Ucapnya.

Saefuddin juga menyoroti kapasitas komposter sebesar 140 liter yang ditawarkan PT Hambalang Kertajaya. Menurutnya, jumlah penghuni dan volume sampah setiap rumah tangga berbeda sehingga kapasitas alat harus disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan, terutama jika penggunaannya diperluas hingga tingkat rukun tetangga (RT). Ia menilai, informasi mengenai waktu penguraian hingga menghasilkan pupuk padat dan cair juga perlu disampaikan secara terukur. 

Dalam audiensi itu, perwakilan PT Hambalang Kertajaya memaparkan komposter berbahan fiberglass berkapasitas 140 liter yang dilengkapi sistem aerasi dan pemisah untuk menghasilkan kompos padat serta pupuk organik cair. 

Alat tersebut dirancang untuk mengolah sampah organik rumah tangga, seperti sisa sayuran, buah-buahan, nasi, cangkang telur, dan dedaunan. Sementara itu, sampah anorganik, termasuk plastik, tidak dapat dimasukkan ke dalam alat.  Menanggapi pemaparan tersebut, Saefuddin menekankan pentingnya penjelasan teknis yang mudah dipahami masyarakat. 

“Warga perlu mengetahui jenis sampah yang bisa diolah, cara penggunaannya, dan bagaimana merawat alat agar proses pengomposan berjalan optimal,” menjadi bagian penting dari edukasi yang perlu disiapkan. Pembahasan komposter tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Samarinda memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya. 

Pengolahan sampah organik sejak dari rumah berpotensi mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke tempat penampungan sementara hingga tempat pemrosesan akhir (TPA). Saefuddin menilai, pendekatan ini perlu berjalan beriringan dengan pemilahan sampah dan pemanfaatan kembali material yang masih bernilai guna. 

“Pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya. Jika masyarakat terbiasa memilah dan mengolah sampah organik, beban penanganan sampah di hilir dapat ditekan,” Jelas Saefuddin Zuhri. Penerapan komposter melalui Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya) pun dapat dipertimbangkan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan warga dan kebutuhan setiap lingkungan. 

Saefuddin menekankan bahwa edukasi, pendampingan, serta pemantauan harus menjadi bagian dari program agar alat yang disediakan tidak berakhir tanpa pemanfaatan.  Selain efektivitas pengolahan, pemanfaatan hasil kompos juga perlu direncanakan sejak awal. Kompos padat dan pupuk organik cair berpotensi digunakan untuk tanaman di lingkungan rumah, pertamanan, maupun ruang terbuka hijau.

Menurut Saefuddin, pengelolaan sampah perlu diarahkan pada sistem yang saling terhubung, mulai dari pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan hasilnya.  “Kita harus memikirkan bagaimana hasil pengolahan ini bisa dimanfaatkan kembali. Dengan begitu, pengurangan sampah tidak berhenti pada proses mengolah, tetapi juga menghasilkan nilai guna bagi masyarakat,” Ujar Saefuddin Zuhri.

Melalui kajian kapasitas, biaya operasional, efektivitas penguraian, dan kesiapan masyarakat, penerapan komposter di Samarinda diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.  Saefuddin menegaskan pentingnya memastikan setiap solusi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan lapangan dan memberikan manfaat nyata. 

“Teknologi harus didukung perencanaan yang matang dan keterlibatan masyarakat. Tujuannya agar pengelolaan sampah dari rumah tangga benar-benar berjalan dan memberikan dampak bagi Kota Samarinda,” Tutup Saefuddin Zuhri. (adv/diskominfo/smd)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
samarinda