Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Rabban Bar Sauma: "Marco Polo dari Timur" yang Mengguncang Eropa Abad Pertengahan

Indra Zakaria • Selasa, 7 April 2026 - 23:00 WIB
Ilustrasi Rabban Bar Sauma
Ilustrasi Rabban Bar Sauma

 PROKAL.CO- Dalam catatan sejarah, nama Marco Polo begitu lekat dengan perjalanan penjelajahan dari Barat ke Timur. Namun, sejarah memiliki cerminannya yang tak kalah menakjubkan: Rabban Bar Sauma. Lahir di Khanbaliq (sekarang Beijing), biarawan Kristen Nestorian ini melakukan perjalanan sejauh 7.000 mil bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk misi diplomatik dan penyelamatan Tanah Suci.

Diutus oleh Ilkhan Mongol, Bar Sauma melintasi dunia yang dikenal pada abad ke-13 untuk berdiri di hadapan para penguasa tertinggi dunia Kristen. Misi utamanya adalah menawarkan aliansi militer antara Kekaisaran Mongol dan Tentara Salib guna menghadapi kekuatan Mamluk di Mesir.

Kejutan di Istana Bordeaux

Saat Bar Sauma tiba di Bordeaux untuk bertemu Raja Edward I dari Inggris, istana sempat diliputi prasangka. Mereka membayangkan seorang penunggang kuda barbar dari padang rumput Asia yang liar. Sebaliknya, mereka disambut oleh seorang teolog ulung yang fasih berbahasa Persia dan Turki.

Bar Sauma tidak datang dengan tuntutan penyerahan diri. Ia justru menunjukkan kedalaman spiritualnya dengan merayakan misa Paskah bersama Paus di Roma. Selama berbulan-bulan, pria asal Tiongkok ini terlibat dalam debat teologi dengan para kardinal dan makan malam formal bersama raja-raja Eropa.

Hal yang menarik dari perjalanan Bar Sauma adalah catatan pribadinya. Jika Marco Polo menuliskan kekagumannya pada kemegahan Timur, Bar Sauma justru mencatat kebiasaan-kebiasaan aneh orang-orang "Frank" (sebutan untuk orang Eropa saat itu) dengan rasa ingin tahu yang sama besarnya. Catatannya menjadi satu-satunya dokumen sejarah tentang Eropa abad pertengahan yang ditulis dari sudut pandang orang luar Timur.

Meski disambut dengan rasa hormat yang tinggi, misi diplomatik Bar Sauma berakhir dengan kegagalan secara politis. Ironisnya, saat Kekaisaran Mongol—kekaisaran terbesar di dunia kala itu—menawarkan uluran tangan untuk aliansi militer, raja-raja Eropa terlalu sibuk dengan pertikaian internal dan perselisihan antar-negara mereka sendiri.

Eropa yang terpecah belah tidak mampu menyatukan visi untuk menerima bantuan strategis dari Timur. Bar Sauma akhirnya kembali ke asalnya, meninggalkan altar Basilika Santo Petrus tempat ia pernah berdoa.

Walaupun aliansi gabungan Mongol-Tentara Salib tidak pernah terwujud, perjalanan Rabban Bar Sauma tetap tegak sebagai kemenangan historis. Ia membuktikan bahwa jauh sebelum era modern, dialog antar-peradaban yang sangat kontras telah terjadi melalui langkah kaki seorang biarawan yang menjembatani Beijing hingga Roma. (*)

Editor : Indra Zakaria
#marcopolo