PROKAL.CO- Sejarah militer kolonial Hindia Belanda bukan sekadar catatan tentang pertempuran, melainkan cerminan dari strategi politik yang sangat terstruktur. Data pada tahun 1929 menunjukkan bahwa Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dibangun di atas fondasi ketimpangan representasi etnis yang disengaja. Meski mayoritas prajurit berasal dari kalangan pribumi dengan etnis Jawa sebagai kontributor terbesar mencapai 43,75 persen, kendali sesungguhnya tetap berada di tangan kelompok minoritas yang dianggap paling loyal oleh pemerintah kolonial.
Salah satu anomali yang mencolok terlihat pada proporsi warga Eropa. Meski mereka hanya mencakup 0,40 persen dari total populasi Hindia Belanda, mereka justru mendominasi jajaran KNIL dengan porsi mencapai 20,76 persen. Angka ini menegaskan posisi mereka sebagai pemegang kendali utama di lapangan. Di sisi lain, Belanda menerapkan kebijakan "istimewa" terhadap etnis tertentu seperti Ambon dan Manado. Proporsi mereka dalam militer jauh melampaui rasio jumlah penduduk aslinya, disertai dengan pemberian fasilitas dan gaji yang lebih tinggi dibandingkan prajurit pribumi lainnya.
Pola perekrutan ini menunjukkan adanya kecenderungan Belanda untuk memilah berdasarkan loyalitas politik dan potensi perlawanan. Sementara kelompok yang dianggap kooperatif diperbesar perannya, etnis-etnis seperti Sunda, Madura, Bugis, hingga Aceh justru mendapatkan representasi yang sangat minim jika dibandingkan dengan jumlah populasi mereka yang besar. Ketimpangan ini bukan tanpa alasan; Belanda cenderung memperkecil ruang bagi kelompok-kelompok yang secara historis memiliki rekam jejak perlawanan kuat terhadap kolonialisme.
Namun, kebijakan "anak emas" ini membawa konsekuensi jangka panjang yang tragis bagi hubungan antarmasyarakat di tanah air. Status istimewa yang diberikan kepada prajurit asal Ambon dan Manado menciptakan sentimen kecemburuan sosial yang mendalam. Hal ini menjadi salah satu pemicu terjadinya ketegangan hebat di masa depan, terutama pada periode Bersiap. Pada masa transisi tersebut, orang-orang Ambon dan Manado kerap menjadi sasaran amuk massa karena dianggap sebagai pihak yang paling diuntungkan dan menjadi tangan kanan sistem kolonialisme yang menindas. Struktur KNIL tahun 1929 pun menjadi bukti nyata bagaimana militer digunakan sebagai alat untuk membelah persatuan demi melanggengkan kekuasaan asing.
Editor : Indra Zakaria