PROKAL.CO – Sebelum menggema sebagai lagu ikonik dalam serial populer Money Heist (La Casa de Papel), "Bella Ciao" telah menempuh perjalanan panjang melintasi waktu. Lagu yang secara harfiah berarti "Selamat Tinggal, Cantik" ini menyimpan sejarah berlapis, mulai dari jeritan buruh wanita hingga menjadi simbol perlawanan terhadap fasisme di Italia.
Jauh sebelum dikenal sebagai lagu perang, melodi "Bella Ciao" diyakini lahir di awal abad ke-20, sekitar tahun 1906. Lagu ini awalnya dinyanyikan oleh para Mondina, buruh wanita yang bekerja di sawah-sawah padi di wilayah Italia Utara. Pada masa itu, liriknya bukanlah tentang perjuangan senjata, melainkan protes terhadap eksploitasi kerja yang kejam.
Para Mondina menyanyikannya untuk mengadu nasib tentang punggung yang pegal di bawah terik matahari, kaki yang terendam air sarang nyamuk, hingga perlakuan mandor yang tidak manusiawi dengan upah yang sangat rendah.
Transformasi Menjadi Himne Anti-Fasis
Lagu ini baru berubah wujud menjadi simbol perlawanan nasional selama Perang Dunia II, tepatnya antara tahun 1943 hingga 1945. Kelompok Partisan Italia yang berjuang melawan pendudukan Nazi Jerman dan rezim fasis Benito Mussolini mengadaptasi lagu ini menjadi sebuah janji setia pada kebebasan.
Liriknya bertransformasi menjadi narasi seorang pejuang yang menyadari ajalnya sudah dekat saat penjajah datang. Kalimat ikonik "O partigiano, portami via... ché mi sento di morire" (Wahai partisan, bawalah aku pergi... karena aku merasa akan mati) menjadi pengikat emosional bagi berbagai kelompok pejuang lintas politik yang memiliki satu tujuan: Italia yang merdeka.
Pasca-perang, "Bella Ciao" tidak lantas tenggelam. Pada tahun 1960-an, lagu ini mulai mendunia melalui festival pemuda internasional dan diadopsi oleh berbagai gerakan aktivisme di berbagai belahan bumi, mulai dari Chile, Turki, hingga Hong Kong.
Popularitasnya mencapai puncaknya di era modern berkat serial Netflix Money Heist. Dalam konteks tersebut, lagu ini digunakan untuk menggambarkan perlawanan kelompok "The Professor" terhadap sistem kapitalisme global. Meski kemasannya kini lebih modern, pesan inti dari "Bella Ciao" tetap tidak berubah, yakni tentang determinasi.
Secara esensial, lagu ini adalah perayaan atas keberanian manusia. Baik itu buruh tani yang melawan ketidakadilan atau partisan yang menghadapi tiran, "Bella Ciao" tetap menjadi pengingat bahwa kebebasan adalah harga mati, bahkan jika harus ditebus dengan nyawa. (*)
Editor : Indra Zakaria