DAMASKUS – Sebuah fragmen sejarah yang sering dijuluki sebagai momen "paling langka dari yang terlangka" kembali menjadi sorotan, mengisahkan pertemuan dua simbol perlawanan dari era yang terpaut jauh. Pada tahun 1959, sesaat setelah kesuksesan Revolusi Kuba, Ernesto "Che" Guevara melakukan perjalanan diplomatik lintas benua ke Afrika dan Timur Tengah, di mana salah satu persinggahan paling ikoniknya adalah makam Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi di Damaskus, Suriah.
Kunjungan ini bukan sekadar protokol diplomatik biasa, melainkan sebuah aksi simbolis yang penuh makna ideologis. Che, seorang revolusioner marxis sekuler dari Amerika Latin, menunjukkan ketertarikan mendalam pada perjuangan anti-imperialisme di luar dunianya. Dengan berdiri di depan makam pemimpin Muslim abad ke-12 yang berhasil memukul mundur pasukan Tentara Salib dan merebut kembali Yerusalem, Che seolah sedang mencari benang merah perjuangan melawan dominasi asing yang melampaui batas agama dan zaman.
Bagi Che, Shalahuddin adalah representasi dari keteguhan hati dalam menghadapi pendudukan asing—sebuah nilai yang sangat relevan dengan semangat revolusi yang ia usung di Kuba. Penghormatan ini dipandang sebagai momen bersejarah di mana heroisme militer, keadilan, dan keberanian sang Sultan diakui oleh tokoh kiri dunia sebagai inspirasi bagi gerakan pembebasan nasional.
Perjalanan tahun 1959 ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah baru Kuba untuk membangun aliansi dengan negara-negara berkembang dan para pemimpin "progresif" di dunia Arab. Langkah ini bertujuan untuk menyatukan narasi perlawanan Amerika Latin dengan semangat nasionalisme Arab yang saat itu sedang membara di kawasan Timur Tengah.
Foto-foto langka yang mengabadikan momen Che saat berinteraksi dengan otoritas sejarah di Damaskus memperlihatkan sebuah fusi ideologi yang unik. Di sana, Marxisme modern dan narasi sejarah abad pertengahan melebur menjadi satu suara dalam melawan musuh bersama: imperialisme dan intervensi asing. Kunjungan ini tetap menjadi bukti nyata bahwa semangat perlawanan terhadap penindasan memiliki bahasa universal yang dapat menyatukan para pejuang dari berbagai latar belakang budaya dan garis waktu. (*)
Editor : Indra Zakaria