PROKAL.CO – Sejarah mencatat abad ke-18 sebagai era pergolakan besar di tanah India, di mana kekuatan lokal dan kolonial saling bertarung demi supremasi. Di tengah badai peperangan tersebut, muncul sosok Hyder Ali (juga dieja Haidar Ali), seorang penguasa Muslim dari negara bagian Mysore sekaligus komandan militer genius yang menjadi salah satu duri paling tajam bagi kongsi dagang Inggris (EIC) di India selatan.
Lahir pada tahun 1722 di Budikote, Mysore, Hyder Ali tumbuh menjadi sosok yang jeli melihat arah perubahan zaman. Ia menyadari bahwa kunci menghadapi kekuatan Barat adalah dengan mengadopsi teknologi dan taktik mereka sendiri.
Pelopor Modernisasi Militer India
Titik balik karier militer Hyder bermula setelah ia mempelajari taktik militer yang diterapkan oleh tokoh Prancis, Joseph-François Dupleix. Terinspirasi oleh efektivitas pasukan Barat, Hyder membujuk kakak lak-lakinya yang menjabat sebagai komandat brigade di pasukan Mysore untuk mengambil langkah berani.
Mereka mendatangkan peralatan militer modern dari pemerintah Bombay (sekarang Mumbai) dan merekrut sekitar 30 pelaut Eropa untuk bertindak sebagai penembak meriam. Dari sinilah lahir korps sepoy (tentara pribumi) pertama di India yang dipersenjatai dengan senapan dan bayonet, serta didukung oleh artileri yang dioperasikan tenaga ahli Eropa.
Karier Hyder melejit dengan cepat. Setelah menerima komando independen pada tahun 1749, pengaruh politiknya kian tak terbendung. Ia akhirnya menggulingkan Perdana Menteri Nanjaraj, mengurung raja di istananya sendiri, dan menobatkan dirinya sebagai penguasa absolut Mysore sekitar tahun 1761. Kekuasaannya meluas setelah ia menaklukkan Bednore (sekarang Haidarnagar), Kanara, dan para kepala feodal (poligar) di sekitarnya.
Aliansi, Pengkhianatan, dan Perang Melawan Inggris
Ketangguhan Mysore membuat musuh-musuhnya gentar. Pada tahun 1766, aliansi tiga pihak yang terdiri dari kaum Maratha, Nizam Hyderabad (ʿAlī Khān), dan Inggris dibentuk khusus untuk menumbangkan Hyder. Namun, dengan kecerdikan diplomasinya, Hyder menyuap Maratha, merebut Mangalore, dan berhasil memukul mundur pasukan Inggris di Bombay.
Hubungan dengan Inggris sempat membaik pada April 1769 lewat sebuah perjanjian bantuan timbal balik. Namun, Inggris berkhianat. Ketika wilayah Mysore diserbu Maratha pada tahun 1771, Inggris menolak mengirimkan bantuan. Merasa dikhianati, Hyder Ali menyimpan dendam mendalam.
Satu dekade kemudian, ketegangan memuncak. Dipicu oleh langkah Inggris yang merebut pemukiman Prancis di Mahé—yang berada di bawah wilayah hukum Mysore—Hyder Ali mendeklarasikan perang total pada tahun 1780. Didukung oleh tentara bayaran Eropa dan aliansi baru dengan Nizam serta Maratha, Hyder menyerbu wilayah Karnatic, menghancurkan 2.800 detasemen Inggris, dan merebut Arcot.
Namun, Inggris berhasil membalas dengan taktik memecah belah, memisahkan Nizam dan Maratha dari sisi Hyder. Sepanjang tahun 1781, Mysore menelan kekalahan tiga kali berturut-turut dalam Pertempuran Porto Novo, Pollilur, dan Sholinghur. Di Porto Novo saja, Hyder harus kehilangan lebih dari 10.000 prajuritnya.
Akhir Perjuangan dan Pesan Terakhir
Meski terpukul, perlawanan Mysore belum padam. Memasuki tahun 1782, putra Hyder, Tipu Sultan, bersama bantuan ratusan tentara Prancis berhasil memukul balik pasukan sepoy Inggris di Sungai Kollidam. Prancis juga mendaratkan 1.200 pasukan di Porto Novo untuk merebut Cuddalore, menahan gempuran Inggris yang mengincar benteng Arni, gudang senjata utama Mysore.
Namun, kedatangan George Macartney sebagai Gubernur Madras yang baru membawa angin segar bagi Inggris. Armada laut Inggris berhasil merebut Nagappattinam, sebuah langkah strategis yang menyadarkan Hyder Ali bahwa superioritas maritim Inggris akan sangat sulit dibendung.
Di tengah kecamuk perang yang belum usai, kesehatan sang penguasa terus menurun. Pada 7 Desember 1782, Hyder Ali mengembuskan napas terakhirnya di Chittoor pada usia 60 tahun akibat kanker. Dalam momentum terakhir menjelang wafatnya, sang singa Mysore menitipkan pesan terakhir kepada putranya, Tipu Sultan, sebuah wasiat realistis agar sang putra segera mencari jalan perdamaian dengan Inggris demi menyelamatkan kerajaan. (*)
Editor : Indra Zakaria