PROKAL.CO – Pada akhir abad ke-18, dunia ternyata sudah saling terhubung lewat jalinan nasib yang tak terduga. Ketika tiga belas koloni Amerika Serikat sedang berdarah-darah memperjuangkan kemerdekaan mereka dari cengkeraman Britania Raya, sebuah nama dari daratan India selatan bergema di jalanan Philadelphia dan New Jersey sebagai simbol perlawanan: Hyder Ali.
Nama penguasa Kesultanan Mysore tersebut, bersama putranya sang "Harimau Mysore" Tipu Sultan, menjadi sangat populer di Amerika pada dekade 1770-an hingga 1780-an. Keberanian mereka menghancurkan pasukan infanteri Inggris dalam Pertempuran Pollilur (September 1780) menggunakan teknologi roket perang Mysore terdengar hingga ke seberang samudra, membakar semangat para pejuang revolusi Amerika yang menghadapi musuh yang sama.
Perayaan Kembar di New Jersey
Hubungan emosional yang unik ini memuncak pada 28 Oktober 1781 di Trenton, New Jersey. Hanya sembilan hari setelah Jenderal Inggris Charles Cornwallis menyerah kepada George Washington di Yorktown, warga kota berkumpul untuk merayakan kemenangan ganda.
Kota dihiasi warna-warni bendera Amerika, dan para tokoh penting menghadiri ibadah di Gereja Presbiterian. Pada sore harinya, sebuah perjamuan digelar dengan dentuman artileri dan 13 kali tradisi bersulang (toasts). Bersulang ke-11 didekasikan khusus untuk: "The great and heroic Hyder Ali, yang dibangkitkan oleh Yang Maha Kuasa untuk membalaskan kekejaman tak terhitung yang dilakukan oleh Inggris... dan untuk menekan keangkuhan serta mengurangi kekuatan Britania di Hindia Timur."
Lahirnya Kapal Hyder Ally dan Puisi Rekrutmen Angkatan Laut
Meskipun Cornwallis telah menyerah di darat, Inggris masih menguasai lautan dan memblokade pelabuhan-pelabuhan Amerika, termasuk menjarah kapal dagang di sekitar Philadelphia. Guna merebut kembali wilayah perairan mereka, negara bagian Pennsylvania membeli sebuah kapal layar kecil bertiang tunggal (sloop) berkecepatan tinggi yang dipersenjatai dengan 16 meriam. Kapal itu dinamai Hyder Ally.
Komando kapal diserahkan kepada seorang letnan muda berbakat berusia 23 tahun, Joshua Barney. Untuk menarik minat para pemuda Amerika bergabung sebagai awak kapal, Barney menggunakan selebaran berisi puisi gubahan Philip Morin Freneau. Menariknya, puisi rekrutmen awal Angkatan Laut AS ini secara eksplisit mengagungkan keberanian Hyder Ali:
Come, all ye lads who know no fear,
To wealth and honour with me steer
In the Hyder Ali privateer,
Commanded by brave Barney.
From an eastern prince she takes her name,
Who, smit with freedom's sacred flame,
Usurping Britons brought to shame,
His country's wrongs avenging...
Duel 26 Menit yang Melegenda di Teluk Delaware
Pada 8 April 1782, USS Hyder Ally menjalankan misi mengawal armada kapal dagang di muara Teluk Delaware. Tiba-tiba, tiga kapal Inggris menghadang. Salah satunya adalah General Monk, sebuah kapal perang Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang ukurannya jauh lebih besar, memiliki jumlah kru seperempat lebih banyak, dan kekuatan tembakan dua kali lipat dari Hyder Ally.
Melihat situasi kritis, Kapten Barney memerintahkan kapal dagang untuk berbalik arah melarikan diri, sementara Hyder Ally memasang badan untuk menahan gempuran. Barney dengan cerdik menahan tembakan kapalnya hingga jarak yang sangat dekat—setingkat jarak tembak pistol—sampai lambung kedua kapal saling tersangkut.
Pertempuran jarak dekat yang brutal dan penuh keputusasaan pecah di atas dek. Hanya dalam waktu 26 menit, Hyder Ally berhasil memaksa General Monk menurunkan benderanya sebagai tanda menyerah. Di pihak Amerika, 4 pelaut gugur dan 11 luka-luka. Sementara di pihak Inggris, sekurangnya 20 pelaut tewas dan 33 lainnya terluka, termasuk sang kapten, Kapten Rogers, dan hampir seluruh perwiranya.
Penghormatan Pedang Emas dan Warisan Sejarah
Kemenangan tak terduga ini disambut dengan sukacita luar biasa di Philadelphia. Balada dan lagu-lagu kemenangan yang meneriakkan nama Barney dan Hyder Ally dinyanyikan di sepanjang jalanan kota. Sebagai bentuk apresiasi tertinggi, Parlemen Pennsylvania menganugerahi Kapten Barney sebuah pedang kehormatan bergagang emas murni, yang diukir dengan relief pertempuran antara Hyder Ally dan General Monk.
Saking legendarisnya duel tersebut, 70 tahun kemudian penulis terkenal James Fenimore Cooper menulis: "Aksi ini secara adil dianggap sebagai salah satu yang paling gemilang yang pernah terjadi di bawah bendera Amerika."
Kisah ini menjadi bukti sejarah yang sahih bahwa jauh sebelum istilah "globalisasi" dikenal, perjuangan melawan kolonialisme telah menyatukan narasi dua pahlawan dari belahan dunia yang berbeda: seorang penguasa di pedalaman India dan seorang kapten laut muda di pesisir Amerika Serikat. (*)
Editor : Indra Zakaria