PROKAL.CO- Bagi pengujung Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) yang hendak menuju area toilet, ada sebuah dinding batu berprasasti yang sering kali terlewatkan. Banyak orang lalu lalang di depannya tanpa menyadari bahwa prasasti tersebut menyimpan salah satu cerita paling mengerikan dalam sejarah Kota Batavia.
Dinding tersebut merupakan sisa dari Monumen Peringatan Pieter Erberveld. Siapa Pieter Erberveld?
Pieter Erberveld adalah seorang pria keturunan Indo. Ayahnya merupakan warga Jerman asal Westphalia, sedangkan ibunya seorang wanita Siam (ada pula sumber yang menyebutkan ibunya warga lokal Jawa). Statusnya yang bukan eropa murni membuat Erberveld lebih dekat dengan masyarakat lokal ketimbang komunitas elite Eropa atau VOC.
Bersama rekan-rekan pribuminya, Erberveld dituduh merencanakan pemberontakan massal untuk membunuh warga Eropa di Batavia. Namun, sebelum rencana tersebut sempat dijalankan, pasukan VOC terlebih dahulu merazia kediamannya akibat adanya bocoran dari seorang informan (informer).
Eksekusi Sadis dan Berdirinya Monumen
Erberveld dan rekan-rekannya ditangkap, diadili, serta dijatuhi hukuman mati yang sangat terencana dan sadis pada tahun 1722 di bawah perintah Gubernur Jenderal VOC, Hendrik Zwaardecroon.
Dalam proses eksekusi tersebut, kedua tangan dan kaki Erberveld diikatkan pada empat ekor kuda yang kemudian ditarik secara berlawanan arah hingga tubuhnya hancur terpisah. Setelah kematiannya, tengkorak kepala Erberveld dicor dengan semen dan ditancapkan di atas ujung tombak di puncak sebuah dinding tembok peringatan.
Di tembok tersebut dipasang sebuah prasasti batu dengan peringatan keras. Pada masanya, monumen mengerikan ini bahkan sempat menjadi semacam "objek wisata" bagi para pelancong luar negeri yang berkunjung ke Batavia untuk melihat simbol kekejaman hukum VOC. Monumen tersebut bertahan hingga masa pendudukan Jepang, sebelum akhirnya dihancurkan karena dinilai sangat tidak manusiawi.
Isi Terjemahan Prasasti
Saat ini, yang tersisa hanyalah bagian prasasti batu dengan tulisan berbahasa Belanda dan Jawa Kuno. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, isinya berbunyi:
"Sebagai kenang-kenangan yang menjijikkan pada si jahat yang telah dihukum: Pieter Erberveld. Dilarang mendirikan rumah, membina, membangun, dan menanam apa pun di tempat ini sampai selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722."
Lokasi Asli dan Asal-usul "Kampung Pecah Kulit"
Lokasi asli dari monumen tersebut sejatinya berada di dekat Buitenkerk (Gereja Luar Kota) atau yang kini dikenal sebagai Gereja Sion di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat. Berdasarkan cerita rakyat yang beredar luas, nama daerah Kampung Pecah Kulit yang berada di sekitar lokasi tersebut diambil dari peristiwa tragis hancur dan terkelupasnya kulit Erberveld saat ditarik empat kuda.
Namun, mendiang sejarawan dan pakar cagar budaya Indonesia, Candrian Attahiyyat, memiliki pandangan yang berbeda terkait asal-usul nama tersebut. Menurut almarhum Pak Candrian, nama Pecah Kulit kemungkinan besar berasal dari istilah tempat penyamakan kulit (looderij) milik pabrik pengolahan kulit hewan yang dahulu memang banyak beroperasi di kawasan Pangeran Jayakarta pada era kolonial, bukan merujuk langsung pada peristiwa eksekusi Erberveld. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co