Pulau Nazino: Tragedi Kemanusiaan 1933 dan Keberanian Seorang Pria Menguak "Pulau Kematian"

Indra Zakaria • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 10:15 WIB
Penghuni pulau Nazino yang banyak meninggal.
Penghuni pulau Nazino yang banyak meninggal.

PROKAL.CO- Pada tahun 1933, sekitar 6.000 orang dibuang begitu saja di sebuah pulau terpencil di Siberia tanpa tempat berteduh, alat kerja, maupun makanan layak. Hanya dalam beberapa minggu, hampir seluruh populasi tewas. Kebenaran kelam ini hampir terkubur selamanya jika bukan karena keberanian seorang wartawan lokal.

Tragedi ini bermula dari ambisi besar rezim Joseph Stalin untuk membersihkan kota-kota besar Soviet sekaligus mengkolonisasi wilayah Siberia dengan tenaga kerja murah. Pemerintah saat itu berencana mendeportasi hingga dua juta orang yang dianggap "berbahaya secara sosial" ke pemukiman-pemukiman khusus.

Pada musim semi tahun 1933, aksi pembersihan massal digelar polisi di jalanan Moskow dan Leningrad. Siapa pun yang tidak membawa dokumen lengkap langsung ditangkap di tempat. Korban penangkapan bukan hanya para penjahat, melainkan juga para petani yang sedang berkunjung, buruh, mahasiswa, hingga anggota Partai Komunis yang kebetulan lupa membawa kartu identitas mereka.

Akibatnya, sekitar 90.000 tahanan dikirim ke kamp transit di Tomsk yang kapasitasnya sangat terbatas. Karena kamp tersebut dengan cepat membludak dan tak sanggup menampung gelombang deportan, para pejabat mengambil keputusan ekstrem dengan mengirimkan kelompok pertama menyusuri sungai menuju tempat tak berpenghuni.

Tepat pada 18 Mei 1933, babak neraka dimulai ketika sekitar 6.000 orang dipadatkan ke dalam tongkang-tongkang sempit. Kondisinya begitu sesak hingga para tahanan terpaksa berdiri sepanjang perjalanan menyusuri Sungai Obi sejauh 800 kilometer, sebelum akhirnya diturunkan di sebuah pulau kecil tak berpenghuni dekat Desa Nazino.

Mereka ditinggalkan begitu saja di tanah asing hanya dengan pakaian yang melekat di badan, tanpa tempat berteduh, tanpa selimut, serta tanpa peralatan untuk membangun perlindungan. Badai salju menerjang pulau tersebut pada malam pertama saat suhu udara anjlok di bawah nol derajat. Ketika fajar menyingsing, sekitar 300 orang ditemukan tewas membeku.

Menderita kedinginan, penderitaan para tahanan kian bertambah karena selama empat hari pertama tidak ada makanan apa pun yang dibagikan. Ketika bantuan akhirnya tiba, para penjaga justru membagikan tepung mentah tanpa menyediakan oven atau alat memasak. Tanpa pilihan lain, para tahanan mengonsumsi tepung tersebut secara langsung dalam bentuk bubuk hingga banyak yang tersedak, sebelum akhirnya wabah disentri menyebar dengan cepat dan melumpuhkan tubuh-tubuh yang kian melemah.

Tanpa adanya sistem administrasi yang jelas dan di bawah tekanan penjaga bersenjata, Pulau Nazino dengan cepat jatuh ke dalam kekacauan parah. Hukum rimba pun berlaku di mana kelompok yang kuat merampok serta membunuh yang lemah, sementara para penjaga tanpa ragu menembaki siapa saja yang mencoba melarikan diri menyeberangi sungai. Terdesak oleh rasa lapar yang teramat sangat, kasus-kasus kanibalisme mulai terjadi secara masif di antara para penyintas.

Dampak bencana kemanusiaan ini sangat menghancurkan. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, dari 6.000 orang yang dikirim ke pulau tersebut, hampir 4.000 jiwa tewas atau hilang akibat membeku, kelaparan, ditembak penjaga, atau tenggelam saat berusaha melarikan diri. Hanya tersisa sekitar 2.000 orang selamat yang kemudian dipindahkan ke tempat lain.

Kisah kelam ini dipastikan akan menguap dari lembaran sejarah jika bukan karena keberanian Vasili Velichko, seorang instruktur komite lokal Partai Komunis di distrik Narym. Pada Juli 1933, Velichko sebenarnya diutus untuk menyusun laporan optimis mengenai keberhasilan program pemukiman ulang tersebut. Namun, setelah mendengar rumor mengerikan mengenai sebuah pulau di Sungai Obi, ia memutuskan menyimpang dari tugas resminya untuk membuktikan kebenaran kabar tersebut dengan mata kepala sendiri.

Saat menembus masuk ke dalam pulau, Velichko menemukan pemandangan yang mengerikan berupa kerangka manusia dan mayat-mayat yang telah terdistorsi, lalu memberanikan diri mewawancarai puluhan penyintas serta warga desa di sekitarnya. Menolak untuk menuliskan kebohongan, Velichko menyusun laporan jujur dan terperinci sepanjang 11 halaman yang dikirimkan langsung ke Kremlin dan Stalin.

Laporan berani itu memicu kegemparan di tingkat pimpinan tertinggi Soviet hingga dikirimkan sebuah komisi khusus ke Nazino. Hasil penyelidikan komisi tersebut menemukan 31 lubang kuburan massal yang masing-masing berisi 50 hingga 70 jenazah. Atas temuan tersebut, lebih dari 80 orang diproses secara hukum dan beberapa di antaranya dijatuhi hukuman mati atas tuduhan perampokan serta kanibalisme.

Namun, alih-alih membuka kebenaran tragedi ini kepada publik, pemerintah Soviet memilih menutup rapat kasus tersebut dengan mengklasifikasikan seluruh dokumen dan laporan Velichko sebagai rahasia negara. Secara resmi, peristiwa kelam di Nazino dinyatakan tidak pernah terjadi. Sebagai dampaknya, Velichko dikeluarkan dari Partai Komunis, meski ia kemudian beralih profesi menjadi koresponden perang hingga berhasil memasuki Berlin bersama Tentara Merah dan menjadi penulis novel tanpa pernah lagi membicarakan pulau tersebut sepanjang hidupnya.

Kebenaran kelam ini tetap terkubur rapat di bawah tanah rahasia negara selama lebih dari 50 tahun. Baru pada tahun 1988, di tengah gelombang perestroika, organisasi hak asasi manusia Memorial berhasil menyelamatkan laporan Velichko dari arsip rahasia dan mengungkapkannya kepada publik dunia. Sejarawan Prancis, Nicolas Werth, kemudian membukukan dokumen tersebut dan menyimpulkan bahwa peristiwa Nazino kemungkinan besar hanyalah satu dari sekian banyak episode kelam serupa yang pernah terjadi, namun dokumennya tak pernah berhasil diselamatkan.

Hingga hari ini, pulau itu tetap berdiri di tengah alur Sungai Obi meski bentuk fisiknya terus berubah tergerus arus sungai yang menelan bekas lubang-lubang kuburan massal. Masyarakat setempat bahkan tidak pernah menyebut tempat itu sebagai Pulau Nazino, melainkan menyimpannya dalam ingatan kolektif sebagai Pulau Kematian—sebuah nama yang kebenarannya dapat kita ketahui hari ini hanya karena seorang pria menolak untuk menuliskan kebohongan. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Uni Sovyet