PROKAL.CO- Jauh sebelum era modern, Kemaharajaan Majapahit ternyata telah melangkah jauh dalam menjalin hubungan diplomasi dan perdagangan luar negeri. Tidak hanya berlayar di kawasan Asia Tenggara, armada utusan dari tanah Jawa tercatat pernah menembus wilayah Korea dan Jepang pada awal abad ke-15.
Jejak sejarah langka ini tidak ditemukan dalam prasasti lokal, melainkan tertuang rapi dalam catatan sejarah kuno Korea, Joseon Wangjo Sillok (Babad Wangsa Joseon). sosok penting di balik diplomasi bersejarah ini adalah seorang pedagang keturunan Tionghoa asal pantai utara (Pantura) Jawa bernama Chen Yanxiang (陳彦祥), yang di Korea dikenal dengan nama Jin Eon-Sang.
Awal Pertemuan dan Pemberian Gelar Arya
Kehadiran Chen Yanxiang di Semenanjung Korea pertama kali tercatat pada 7 Agustus 1395, di masa pemerintahan Raja Taejo dari Dinasti Joseon. Saat itu, Yanxiang berlayar menumpang kapal utusan Kerajaan Siam (Thailand) untuk berdagang dan disambut hangat oleh istana Joseon hingga diberi jabatan di Kementerian Ritual.
Melihat potensi besar perdagangan tanpa harus bergantung pada Dinasti Ming yang saat itu menerapkan larangan maritim, Raja Majapahit, Maharaja Wikramawardhana, melirik sosok Yanxiang. Pada pelayaran berikutnya di tahun 1406, Yanxiang tidak lagi datang sebagai pedagang biasa, melainkan diutus resmi sebagai diplomat Kerajaan Majapahit dengan menyandang gelar bangsawan "Arya".
Dihadang Bajak Laut Wokou yang Bengis
Namun, misi diplomasi Majapahit ke Asia Timur tidak berjalan mulus. Perairan laut pada masa itu sangat rawan oleh serangan perompak Jepang yang terkenal jahat dan ganas, yang dikenal sebagai Wokou.
Saat berlayar menuju Joseon pada tahun 1406, kapal rombongan utusan Jawa dihadang perompak di lepas pantai Pulau Gunsan, Provinsi Jeolla. Serangan brutal tersebut memakan korban jiwa dan kerugian materiil yang sangat besar. Catatan Taejong Annals merekam peristiwa kelam tersebut:
"Kapal rombongan Chen Yanxiang, utusan Negara Jawa, di kapal sedang berlayar di lepas pantai Pulau Gunsan, Provinsi Cheolla (Jeolla-do), ketika diserang oleh bajak laut Jepang (Waeguu) dan dijarah..."
"...burung unta, burung merak, burung beo, makau, gaharu, kamper, merica, secang, kemenyan, bermacam-macam obat-obatan, dan semua kain yang dibawa. Sebanyak 60 orang ditangkap, dan 21 tewas dalam pertempuran. Hanya 40 pria dan wanita yang datang hidup-hidup."
Pemerintah Joseon di bawah Raja Taejong kemudian merawat para korban selamat dengan baik, memberikan pakaian dan makanan, serta memfasilitasi kapal kawalan bagi rombongan Majapahit untuk melanjutkan perjalanan ke Jepang.
Menembus Istana Shogun di Kyoto
Perjuangan rombongan Majapahit berlanjut ke Negeri Sakura. Walau sempat kembali diterjang musibah kapal karam dan dijarah perompak di pesisir Jepang, Yanxiang berhasil mendapatkan pertolongan dari Keshogunan Muromachi.
Pada tahun 1412, Chen Yanxiang kembali berlabuh di Hakata dan berhasil mendapat izin menginjakkan kaki di Kyoto untuk menghadap pemimpin tertinggi Jepang saat itu, Shogun Ashikaga Yoshimochi. Dalam pertemuan tersebut, Yanxiang bertindak resmi mewakili Raja Jawa.
Sebagai bentuk apresiasi atas bantuan masa lalu, Yanxiang juga mengirimkan utusan ke Joseon untuk menyerahkan suvenir berupa tembikar khas kepada Raja Taejong.
"(Dari) negara Jawa/Chowaguk seorang arya kerajaan, Jin Eon-sang mengirim utusan untuk mempersembahkan tembikar, dan itu adalah jenis dari Yugu (Ryukyu) yang berbeda," tulis catatan Taejong Annals tertanggal 21 April 1412.
Akhir Singkat Jalur Diplomasi Jawa-Asia Timur
Meskipun diplomasi ini menjadi bukti kebesaran dan jangkauan navigasi Majapahit, hubungan perdagangan langsung antara Jawa, Korea, dan Jepang tidak berlangsung lama.
Jarak tempuh yang sangat jauh, tingginya risiko kerugian akibat ancaman Wokou, serta gejolak politik internal di Jawa menjelang masa akhir Majapahit membuat jalur diplomasi ini perlahan terputus. Setelah tahun 1412, nama Jawa (Chowaguk) menghilang dari catatan Babad Joseon hingga ratusan tahun kemudian.
Kisah Chen Yanxiang kini menjadi pengingat penting bahwa jauh di masa lalu, para leluhur di Nusantara telah memiliki pandangan geopolitik yang luas dan keberanian luar biasa untuk merajut hubungan antarbangsa di belahan dunia lain. (*)
Sumber : prokal.co