ISTANBUL — Dalam catatan sejarah dunia Islam dan Kekaisaran Utsmaniyah (Ottoman), nama Kılıç Ali Pasha mengemuka sebagai salah satu komandan militer paling disegani pada abad ke-16. Lahir di Calabria, Italia, dengan nama Giovanni Dionigi Galeni sekitar tahun 1515, pemuda yang mulanya ditangkap oleh armada bajak laut ini berhasil mengukir takdir spektakuler hingga menduduki posisi puncak sebagai Laksamana Agung (Kapudan Pasha).
Perjalanan hidupnya berbalik arah setelah memutuskan memeluk Islam dan bergabung dengan kekuatan maritim Utsmaniyah. Keterampilan navigasi, strategi pertempuran, dan ketangguhannya di laut dengan cepat memikat perhatian para penguasa Konstantinopel.
Puncak reputasinya teruji dalam Pertempuran Lepanto pada tahun 1571. Di tengah kekalahan telak armada Utsmaniyah melawan aliansi Kristen (Holy League), sayap perang yang dipimpin oleh Ali Pasha menjadi satu-satunya formasi yang berhasil bertahan utuh, bahkan sempat merebut panji utama kapal induk Ordo Malta. Atas kecerdasan taktis dan keberhasilannya menyelamatkan sisa kekuatan armada, Sultan Selim II menganugerahinya julukan Kılıç yang berarti "Pedang".
Tak butuh waktu lama bagi Kılıç Ali Pasha untuk menunjukkan kehebatannya. Hanya dalam hitungan bulan pascakekalahan Lepanto, ia memimpin rekonstruksi besar-besaran dan membangun kembali armada tempur Utsmaniyah dari nol. Ketangguhan armada baru ini dibuktikan lewat penaklukan strategis di Tunis pada tahun 1574, yang berhasil mengusir pasukan Spanyol sekaligus mengamankan dominasi Utsmaniyah di Afrika Utara.
Hingga akhir hayatnya pada tahun 1587, Kılıç Ali Pasha tak hanya meninggalkan warisan militer di lautan, tetapi juga keindahan arsitektur di daratan. Ia memprakarsai pembangunan kompleks Masjid dan Hammam Kılıç Ali Pasha di kawasan Tophane, Istanbul—sebuah mahakarya rancangan arsitek legendaris Mimar Sinan yang masih berdiri megah hingga hari ini.
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co