PROKAL.CO- Sebuah anggapan umum sering kali mengaitkan tradisi mengonsumsi tembakau dengan sejarah panjang kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara. Namun, catatan sejarah justru menunjukkan fakta sebaliknya: tanaman tembakau dan budaya merokok sama sekali belum dikenal pada era Kerajaan Majapahit.
Meskipun Majapahit dikenal sebagai kerajaan agraris yang kaya akan ragam komoditas, tidak ada satu pun bukti sejarah primer maupun sekunder yang merekam keberadaan tanaman bernama latin Nicotiana tabacum tersebut di Jawa pada abad ke-14 hingga ke-15.
Kitab-kitab utama peninggalan era Majapahit, seperti Nagarakretagama maupun Pararaton, tidak pernah menyinggung tembakau. Begitu pula dalam penuangan hukum atau peristiwa di puluhan prasasti yang ditemukan, tak satu pun yang mencatat budi daya tanaman ini.
Bukti fisik pun menguatkan hal tersebut. Pada dinding candi-candi peninggalan Majapahit, relief tidak menggambarkan bentuk tanaman tembakau maupun aktivitas warga yang sedang merokok. Laporan penjelajah asing Tiongkok, Ma Huan, yang mencatat detail kehidupan sehari-hari masyarakat Majapahit secara rinci dalam kitab Yingya Shenglan, juga absen membahas tradisi merokok.
Awal Mula Tembakau Masuk Tanah Jawa
Lantas, kapan sebenarnya tembakau dan kebiasaan merokok mulai mengakar di Jawa? Jawabannya mengarah pada era Kerajaan Mataram Islam pada awal abad ke-17. Penanda sejarah ini terabadikan secara jelas dalam naskah Jawa kuno, Babad Ing Sangkala, yang mencatat peristiwa pada rentang tahun 1601/1602 Masehi.
Dalam naskah tersebut, tertulis bait berbunyi:
"Kala seda Panembahan syargi / Ing Kajenar pan anunggal warsa / Purwa sata sawiyose / Milaning wong ngaudud."
Bait tersebut memiliki arti: "Ketika Panembahan meninggal di Gedung Kuning, pada tahun yang sama tembakau mulai muncul. Setelah itu, orang-orang mulai merokok."
Catatan dalam Babad Ing Sangkala ini menjadi dokumen penting yang menandai masuknya tembakau dari bangsa Eropa ke tanah Jawa, sekaligus menjadi titik awal lahirnya budaya merokok (ngaudud) yang kemudian berkembang pesat di Nusantara. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co