TANJUNG REDEB - Pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Kaltim di Berau telah berlalu, namun masih menyisakan cerita pilu khususnya bagi Ketua Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Berau, Abdul Jabbar Kareem.
Dia menduga terdapat tindakan intimidasi dan upaya anulir kemenangan sehingga beberapa medali terpaksa harus diikhlaskan dalam pelaksanaan Porprov Kaltim khususnya di cabor renang lalu. Jaka pun mengaku kekecewaannya sudah muncul dimulai jauh sebelum pertandingan diadakan.
Tepatnya saat penyusunan Cabang Olahraga (Cabor) apa saja yang akan dimainkan. Dirinya menegaskan, kala itu telah mengajukan secara suka rela agar Cabor Renang tidak dipertandingkan pada Porprov Kaltim.
Hal itu pun sempat diiyakan. Saat itu pun dirinya mengaku lega, karena dirinya sadar masih kurangnya atlet renang Berau. Jika dipaksakan, artinya sama saja memberi peluang besar kepada kontingen daerah lain untuk meraih medali.
“Tetapi, renang ini masuk dalam DBON. Apa boleh buat, akhirnya kami langsung siapkan segala persiapannya,” ujar Jaka ditemui di ruang kerjanya, Jumat (12/5).
Sesuai dengan dugaannya, pada hari pertama pertandingan kelas renang terbuka, sudah diwarnai permasalahan yang seharusnya tak perlu terjadi.
Jaka bercerita, sejak awal sebelum pertandingan Berau sebagai tuan rumah telah diberi hak istimewa untuk merekrut atlet luar. Jaka pun tak menepisnya, namun Ia kecewa dengan perbuatan kontingen lain, yang baru mempermasalahkan sesaat sebelum pertandingan dimulai. Sebab, pada saat technical meeting hal itu telah dibahas tanpa sanggahan apapun.
“Akhirnya pertandingan tidak dilaksanakan pada hari pertama, kan mereka juga tidak mempermasalahkan itu (atlet luar), diminta juga pemberkasan salah satu atlet kami pada saat itu,” terangnya.
Pada saat itu, perwakilan kontingen lainnya memprotes surat mutasi salah satu atlet berau yang berasal dari luar daerah. Jaka mengaku, bersama dua rekannya telah mempersiapkan segalanya hingga dini hari sebelum pertandingan. Namun, kenyataannya surat serta berkas lainnya yang dipersiapkan itu hilang begitu saja. “Kalau saya lihat dilenyapkan. Ada salah satu orang KONI yang mengakali, tidak dimasukkan,” ujarnya.
Setelah dilakukan mediasi dan pembahasan, pertandingan dilaksanakan dengan permulaan yang kurang baik. Pertandingan akhirnya berlanjut hingga memasuki kelas renang kolam. Pada saat technical meeting untuk renang kolam, Jaka mengaku hari pertama pelaksanaan berjalan lancar, namun hari kedua pelaksanaan permasalahan baru timbul.
Salah satu atlet Berau yang sebelumnya dipermasalahkan pada pertandingan renang terbuka kembali diangkat. Bahkan, kali ini intervensi bukan dilakukan oleh sesama pengurus kontingen, melainkan salah satu oknum dari KONI Kaltim. Jaka mengaku mendapat intervensi dan dipermasalahkan kembali oleh oknum tersebut, meski sebelumnya sudah berjalan lancar.
“Orang tersebut menyebut dirinya dari KONI Kaltim, situasi memanas. Kenapa hanya atlet saya yang dipermasalahkan, jangan karena dia mendulang medali Anda (oknum KONI Kaltim, red) seperti kebakaran jenggot,” jelas Jaka.
Padahal Jaka membeberkan, pada mediasi sebelum pertandingan renang terbuka di Tanjung Batu, terdapat perwakilan kontingen dari salah satu kota di Kaltim yang meminta keringanan bagi salah satu atletnya yang belum genap berusia 13 tahun waktu itu. Dengan kepala dingin dan mengedepankan memberikan anak-anak pengalaman dan waktu, Jaka waktu itu tidak mempermasalahkannya.
“Dari salah satu kota bilang ke saya. Pak dokter, ini ada atlet saya belum 13 tahun, padahal 13 tahun syarat ikut Porprov. Saya bilang, jangan hanya karena hal ini mental anak-anak kita hancur. Yang kita cari kan bibit unggul ini,” jawab Jaka kala itu.
Sehingga, pada permasalahan di kelas renang kolam, Jaka merasa sangat kecewa dan sakit hati. Ia yang kesehariannya sebagai seorang dokter rela meninggalkan tugas pelayanannya demi mendukung pelaksanaan cabor renang lancar. Semangatnya untuk ikut mengharumkan nama Berau melalui cabor renang dilakukannya tanpa setengah-setengah.
Sehingga, kala dirinya diintervensi untuk kedua kali, Ia bercerita sempat membanting pintu sebagai bentuk kekesalannya. Perlombaan yang seharusnya menjadi ajang seleksi bakat unggul, justru diwarnai intervensi, politisasi dan kepentingan pribadi.
“Pelayanan saya tinggalkan, praktik saya tutup bahkan uang pribadi saya, dan dua rekan saya untuk membiayai hal-hal yang tidak ditanggung, saya rasa percuma dengan kejadian itu,” ungkap Jaka.
Setelah itu, permasalahan ini akhirnya dibawa ke tim penyelesaian masalah untuk menuntaskan persoalan ini. Waktu sidang penyelesaian masalah, salah seorang perwakilan dari pihak Berau dikirim untuk mewakili sidang penyelesaian.
“Orang itu diutus untuk menjadi pembela kami, tetapi di sana dia justru menandatangani dokumen anulir. Di situ saya kecewa, kenapa dia tega seperti itu?” ucapnya heran.
Adapun nomor tanding yang dianulir di antaranya gaya bebas jarak 400 meter, 200 meter, 800 meter dan 100 meter, serta 10.000 meter renang laut dan 100 meter gaya dada. Di kelas estafet putri, Berau juga dianulir dari nomor tanding 4x100 meter gaya bebas estafet putri, 4x200 meter gaya bebas putri, dan 4x200 meter gaya ganti putri.
Jaka pun membalikkan situasinya, jika memang atlet Berau begitu dipermasalahkan, seharusnya salah satu atlet yang usianya tidak mencukupi juga ikut ditindak. Apalagi, atlet tersebut termasuk kartu emas, sebab banyak mendulang medali.
“Dia (kontingen salah satu kota) pakai atlet di bawah umur persyaratan, lalu ada juga salah satu kabupaten pakai atlet asal Palembang. Saya ada informasinya,” jelasnya.
Katanya, jika ingin medali, seharusnya dibicarakan baik-baik saja. Nyatanya, setelah para atlet bertanding dengan fair, menerima pengalungan medali, di situ justru semua hal yang telah dibahas saat technical merting baru dipermasalahkan.
Jaka mengaku membongkar persoalan ini, karena para atletnya tidak hanya berjuang pada pertandingan, tapi juga tenaga dan waktu yang seharusnya bisa diefisienkan. Dengan anggaran pembinaan hanya Rp 30 juta, Jaka tentu kewalahan, apalagi mendatangkan atlet luar yang rela menempuh perjalanan udara hingga Kota Balikpapan saja, dan melanjutkan perjalanan menggunakan darat hingga Berau.
“Kalau uang makan kita sudah tidak pikirkan, bahkan tiket pulang saya harus patungan dan pinjam uang bersama rekan sesama dokter saya. Ini bentuk euforia kami, demi nama Berau,” tuturnya.
Karena itu, dirinya tak habis pikir dengan kejadian tersebut, padahal atlet-atlet luar daerah yang dipakai Berau sudah dimigrasikan data kependudukannya. Bahkan terdapat surat pernyataan untuk mendukung Kaltim pada PON mendatang. “Yang semakin membuat saya kesal, karena oknum KONI Kaltim ini tidak berpikiran panjang,” tuturnya.
Sebagai seseorang yang membantu mengharumkan nama Berau, dirinya begitu kecewa dengan pihak-pihak yang mengintervensi dan mempolitisasi atletnya, sehingga pelaksanaan lomba renang tidak bisa berakhir dengan kondusif. “Ya kita kecewa lah, saya harap insan renang bisa memperhatikan hal ini,” pungkasnya. (*/sen/sam)
Editor : uki-Berau Post