PARIS– Komite Eksekutif pengelola liga profesional Prancis (LFP) akhirnya mengambil keputusan tentang hasil akhir musim 2019-2020 Ligue 1 dan Ligue 2. Hal ini menindak lanjuti keputusan Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe pada Selasa (28/4) lalu yang mengumumkan olahraga profesional khususnya sepak bola tak bisa dilanjutkan.
Paris Saint-Germain (PSG) pun dinyatakan menjadi kampiun Ligue 1 untuk kesembilan kalinya. Dan Les Parisiens—julukan PSG--sukses memperpanjang dominasinya di kancah kompetisi domestik sejak musim 2017-2018 lalu.
Sebelum Komite Eksekutif mengumumkan keputusan ini terdapat silang pendapat mengenai bagaimana seharusnya klasemen akhir Ligu1 dan Ligue 2 dinilai. Seperti diberitakan L’Equipe Rabu (29/4) setidaknya ada tiga opsi yang mengemuka.
Opsi pertama adalah memakai hasil klasemen journee ke-19 atau paro pertama musim 2019-2020. Pilihan kedua adalah berpatokan hasil journee ke-27. Mengapa journee ke-27 dan bukan journee ke-28 ketika kompetisi dihentikan ? Alasannya pada journee ke-28 ada satu dua tim yang pertandingannya belum terealisasi. Yakni RC Strasbourg lawan PSG (7/3) di Stade de la Meinau urung terlaksana. Kemudian opsi ketiga adalah memakai kalkulasi poin per pertandingan.
Keputusan LFP berpatokan journee ke-28 sebagai hasil akhir membuat Stade de Reims akan kembali berkompetisi di kancah Eropa setelah absen 57 tahun. Terakhir kali Les rouges et blancs-julukan Reims—hadir di pentas antarbenua pada musim 1962-1963.
Nah, sebelum Komite Eksekutif LFP menggedok keputusan ini kemarin Presiden Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) Noel Le Graet memberikan dukungan agar hasil journee ke-28 sebagai hasil final musim 2019-2020.
“Ya, apa yang tertulis di klasemen ketika pertandingan terakhir (musim ini) terselenggara itulah yang sebenarnya yang paling aktual. Meski keputusan ini tak akan mudah,” kata Le Graet saat diwawancara L’Equipe.
Sebelum LFP memutuskan journee ke-28 sebagai klasemen final, ada perdebatan sengit dua presiden klub Ligue 1. Antara Presiden Olymique Lyon Jean-Michel Aulas dan Presiden Olympique Marseille Jacues-Henri Eyraud. Aulas mewacanakan playoff. Sedang Eyraud berpatokan klasemen hasil journee terakhir.
“Negara lain (di Eropa) mungkin ingin melanjutkan dan LFP pun sebetulnya punya asa serupa memulai pertengahan Juni. Namun pilihan menyudahi kompetisi musim ini sungguhlah tepat karena prioritas semua orang di dunia adalah kesehatan,” tambah Le Graet.
Presiden Prancis Emmanuel Macron seperti diberitakan Daily Mail salah satu yang lantang menyuarakan agar kompetisi sepak bola seantero Eropa berhenti. Macron bahkan sudah meminta menteri olahraganya Roxana Maracineanu agar mempengaruhi menteri olahraga Spanyol, Jerman, dan Italia melakukan hal yang serupa.
Sejauh ini yang memberikan respon adalah menteri olahraga Italia Vincenzo Spadafora. Spadafora menyatakan menghentikan kompetisi di kala pandemi Covid-19 ini merupakan hal yang paling realistis.
“Keputusan yang diambil oleh negara seperti Prancis seharusnya bisa mendorong Italia buat mengikuti apa yang dilakukan mereka. Keputusan di masa krusial seperti ini sangat dipertimbangkan,” ucap Spadafora dikutip Football Italia.
Di sisi lain, Federasi Internasional Asosiasi Pesepakbola Profesional (FIFPro) Jonas Baer-Hoffmann seperti dikutip Talk Sport mengungkapkan berdasarkan hasil survei, para pemain sebetulnya khawatir dengan dilanjutkannya kompetisi.
“Bukan hanya kondisi pribadi dari pemain yang dipikirkan melainkan juga keluarga dan teman mereka. Mereka takut membawa simtom virus SARS-CoV-2 usai bermain sepak bola,” kata Baer-Hoffmann.
Bahkan kecemasan dan depresi yang dialami oleh pesepakbola ketika pandemi Covid-19 ini mewabah jumlahnya berlipat. Karena atas nama kemanusiaan, Baer-Hoffmann mendukung sikap tegas tak melanjutkan kompetisi seperti yang dilakukan Belgia, Belanda, dan Prancis. (dra)
--
Editor : izak-Indra Zakaria