Saat kali pertama digelar pada 2002, Proliga diikuti 16 peserta. Masing-masing delapan tim di sektor putra dan putri. Dari tahun ke tahun, peserta bukannya bertambah banyak. Malah menyusut. Penyebabnya, mahal. Berapa yang dibutuhkan tim voli dalam satu musim kompetisi?
RASANYA baru kemarin Proliga 2019 digelar. Eh, besok (11/1), kompetisi voli profesional tanah air itu sudah masuk putaran kedua. Cepat sekali. Jelas saja cepat. Karena jumlah serinya memang sangat sedikit. Hanya enam seri untuk dua putaran. Itu terjadi karena pesertanya minim. Enam tim putra, dan lima tim putri.
Itu bikin miris. Sebagai kompetisi kasta tertinggi, Proliga menjadi ajang seleksi pemain timnas. Yang akan dikirim ke berbagai multievent. Mulai dari SEA Games sampai Asian Games. Untungnya, di Asia Tenggara, kita masih bisa bersaing. Namun di level Asia, lupakan saja.
Lalu, apa yang bikin minat peserta Proliga menurun dari tahun ke tahun? Sederhana. ''Mahal,'' kata Hanny Surkatty, direktur Proliga. Untuk mendaftar jadi peserta, tim harus membayar biaya Rp 75 juta. ''Tapi, membiayai tim setelah mendaftar itulah yang butuh biaya sangat besar. Terutama buat gaji pemain. Tim suka jor-joran memberi gaji besar untuk mendapatkan pemain terbaik,'' papar dia.
Di satu sisi, kata Hanny, gaji besar baik untuk keberlangsungan hidup para pevoli jika liga sedang off. Namun di sisi lain, hal itu membuat tim-tim voli enggan mengikuti Proliga jika tidak punya penyandang dana yang sangat kuat. Sehingga, yang terjadi seperti saat ini. Peserta Proliga bukanlah tim voli murni yang mendapat sponsor. Namun tim binaan perusahaan yang peduli pada voli.
Jawa Pos mencoba melakukan survei terhadap tim-tim peserta Proliga 2019. Secara kompak, mereka mengatakan bahwa gaji pemain memakan hampir 60 persen anggaran tim per musim. Terlebih jika mereka punya pemain asing. Gajinya bisa berlipat-lipat.
Ambil contoh Bandung Bank BJB Pakuan. Mereka mengontrak Maja Burazer, open spiker asal Kroasia. Untuk ukuran pemain yang sudah berusia 30 tahun, BJB Pakuan harus merogoh kocek sedalam USD 250 ribu, atau setara dengan Rp 35 miliar untuk semusim. ''Jumlah itu bisa buat menggaji sepuluh pemain lokal,'' kata Ayi Subarna, manajer BJB Pakuan.
Selama menjalani tur dari kota ke kota, tim butuh naik pesawat dan menginap di hotel. Maskapainya bonafide, hotelnya standar bintang 4. Jika menang, manajer tim akan membawa pemainnya makan-makan di restoran yang fancy. Totalnya berapa? ''Ya, kalau dibelikan Alphard bisa dapat empat lah,'' ucap Ayi. Jika satu unit seri mobil keluarga premium Toyota itu rata-rata Rp 1,5 miliar, maka tim butuh duit sekitar Rp 6 miliar per musim.
Sedihnya, tidak ada jaminan tim mendapat keuntungan finansial dengan mengikuti Proliga. Juara hanya mendapat hadiah Rp 1,5 miliar. Tidak setara dengan pengeluaran. Lalu, kenapa masih ada yang setia menjadi peserta? Misalnya Jakarta BNI 46 dan Surabaya Bhayangkara Samator.
''Tidak ada keuntungan kalau dari bonus (juara) saja. Tapi semua untuk branding kami,'' jelas Loudry Maspaitella, manajer BNI 46. ''Aslinya tanpa ikut Proliga, citra BNI sudah kuat di masyarakat. Namun, ada keterkaitan antara Proliga dengan BNI. Saling membutuhkan,'' imbuh mantan pevoli nasional itu.
Proliga memang jadi media promosi yang efisien bagi perusahaan. Seperti Jakarta Pertamina Energi yang disokong Pertamina. Tiap jeda pertandingan, iklannya selalu diputar. ''Ini efektif sekali untuk mengenalkan produk-produk perusahaan kami,'' ungkap wakil manajer Pertamina Energi Dedi Kurniawan.
Bahkan penamaan tim pun tak lepas dari ajang promosi. Setiap tim mengusung nama perusahaan dengan jelas. Seperti Jakarta PGN Popsivo Polwan, Sidoarjo Aneka Gas Industri, Jakarta Elektrik PLN, hingga Palembang Bank SumselBabel. ''Sejak Samator merger dengan Polri menjadi Bhayangkara Samator, secara tidak langsung menimbulkan minat di antara masyarakat untuk menjadi polisi,'' terang Nanang Mashudi, manajer Samator. (tyasefania febriani/na/jpg/san)
Editor : amir-Amir KP