OAKLAND – Di dalam sebuah benteng bernama Oracle Arena, pada sebuah siang yang cerah di California, fans Golden State Warriors merasa frustrasi. Selama bertahun-tahun, mereka terbiasa melihat tim kesayangan menghajar tamu yang berani-beraninya memipikan kemenangan di sana.
Tapi kemarin, dalam posisi tertinggal 17 poin dari Toronto Raptors di enam menit terakhir, mereka tahu. Warriors tak akan menang. Satu per satu fans melangkah ke pintu keluar. Benar saja. Raptors merebut game ketiga final NBA 2019 ini dengan skor fantastis, 123-109. Kawhi Leonard dkk kini leading 2-1, dan hanya butuh dua game lagi untuk mengunci trofi NBA perdana sepanjang sejarah.
Warriors tanpa Kevin Durant memang masih perkasa. Namun, tanpa Klay Thompson, tim yang tengah memburu gelar ketiga beruntun itu seperti bukan Warriors. Mereka kehilangan pace dan konsistensi offense yang biasa disajikan oleh shooting guard 29 tahun tersebut.
Steve Kerr, head coach Warriors, bersikukuh menganggap keputusannya tidak memainkan Thompson yang cedera hamstring tepat. Meski dia harus membayar mahal keputusan itu.
''Tujuan utamanya adalah tidak mengambil risiko yang membuat dia absen hingga akhir seri,'' kata Kerr dalam konferensi pers. ''Aku sudah memutuskan, dan aku nyaman dengan keputusan itu. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau aku memainkannya tadi, dan cederanya tambah parah,'' tegas pelatih terbaik NBA 2016 itu.
Tanpa tandem kesayangannya, bintang Warriors Stephen Curry benar-benar harus berjuang sendirian. Dia masih hebat, tentu saja. Memborong 47 poin, 8 rebounds, 7 assists, dan 2 steal. Raihan 47 poin itu tercatat menjadi angka tertinggi yang sanggup dia lesakkan di playoff sepanjang karir. Hanya ada tiga orang di NBA dalam 45 tahun terakhir yang sanggup membuat catatan lebih tinggi dari Curry di final. Yakni Michael Jordan (55), LeBron James (51), dan Allen Iverson (48).
Curry tahu, dia jadi satu-satunya tumpuan untuk mencetak skor. Maka sejak awal, di kuarter pertama, dia sudah membukukan 12 dari 14 poin pertama Warriors. Hingga kuarter pembuka itu berakhir, Curry mencetak 17 poin, dan Warriors masih tertinggal 7 poin. Itu terus terjadi hingga setelah half-time.
Performa dominan Curry tersebut tidak mampu mengimbangi kolektivitas Raptors. Setiap kali Curry memamerkan tembakan three point dia yang terkenal itu, Raptors membalas lebih ganas. Lima starter tim asuhan Nick Nurse itu kompak mencetak sedikitnya 17 poin. Kawhi Leonard paling subur dengan 30 angka. Kyle Lowry dan Danny Green juga on fire. Mencetak masing-masing 23 dan 18 poin.
Raihan itu membuat Raptors mengukir catatan penting. Mereka menjadi tim kedua dalam 20 tahun terakhir yang seluruh starternya sanggup membuat minimal 15 poin di satu laga final NBA. Menyamai capaian San Antonio Spurs pada final 2013 game kelima. ''Aku harus memberi pemain penghormatan setinggi-tingginya,'' ucap Nurse.
Game keempat bakal kembali digeber di Oracle Arena Sabtu pagi WIB. Menurut ESPN, Thompson (yang selama ini tidak pernah absen di post-season dalam tujuh musim terakhir) sudah bisa tampil. Apakah Raptors jadi takut? Seharusnya begitu. Meskipun Nurse tak mau memperlihatkannya. Dia menyebut, timnya sedang sangat percaya diri. Sehingga siapa pun yang dipasang Kerr Sabtu nanti tidak berpengaruh besar.
''Kami tadi (kemarin) menekan Curry dengan penjagaan ketat, tapi nggak berhasil juga (membendung dia) kan? Statistik itu tidak penting. Hasil akhir lah yang penting,'' kata Nurse. ''Kami akan menyiapkan strategi lain lagi untuk mengantisipasi Warriors yang full team,'' janjinya. (irr/na)
Editor : izak-Indra Zakaria