Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Belajar dari Tragedi Kanjuruhan, Harus Sepaham soal Keamanan, Perilaku Suporter Harus Dibenahi

izak-Indra Zakaria • Selasa, 4 Oktober 2022 - 18:11 WIB
BERI PEMAHAMAN: Nugroho Setiawan menjelaskan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan dari sudut pandang keamanan berstandar AFC dan FIFA.
BERI PEMAHAMAN: Nugroho Setiawan menjelaskan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan dari sudut pandang keamanan berstandar AFC dan FIFA.

AFC Security Officer Nugroho Setiawan angkat bicara terkait tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Satu-satunya orang Indonesia pemegang lisensi FIFA Security Officer itu menilai, situasi tersebut seharusnya bisa diantisipasi. Berikut wawancara wartawan Jawa Pos Taufiq Ardyansyah dengan sosok yang akrab disapa Pak Nug itu.

 

JAWA POS (JP): Bagaimana Anda melihat insiden yang terjadi di Kanjuruhan?

NUGROHO SETIAWAN (NS): Pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya merupakan laga berisiko tinggi. Kedua tim sudah sering bertemu. Artinya, pengalaman menggelar pertandingan derbi Jawa Timur antara Arema dan Persebaya sudah ada. Seharusnya sudah bisa diperhitungkan mitigasi risikonya.

JP: Dalam penanganan suporter, apakah polisi boleh menembakkan gas air mata?

NS: Sepak bola adalah industri olahraga yang peraturannya sudah dibuat FIFA. Tapi, untuk menyelenggarakan sebuah pertandingan, perlu melibatkan banyak pihak. Masing-masing punya landasan hukum. Polisi, misalnya, dalam menangani kericuhan, langkah awal yang harus dilakukan adalah persuasif, negosiasi, dan terakhir represif.

Dalam peraturan FIFA, ada pasal yang menyebutkan tidak boleh pihak keamanan menertibkan suporter dengan senjata api dan gas air mata. Tapi, pada pasal lanjutannya, pihak keamanan boleh melakukan tindakan represif apabila diperlukan. Mungkin, yang terjadi di Kanjuruhan adalah momen di mana kepolisian sudah merasa perlu melakukan tindakan represif.

 

JP: Insiden yang terjadi di Kanjuruhan juga tidak terlepas dari overload. Bagaimana Anda melihatnya?

NS: Dalam ketentuan FIFA, ada regulasi yang mengatur untuk menghitung kapasitas aman stadion. Jadi, kalau terjadi apa-apa, mudah diatasi. Mobilitas penonton juga enak. Penonton bisa duduk dengan nyaman.

Nah, kapasitas aman stadion bisa disesuaikan dengan kondisi stadion. Misalnya, sebuah stadion memiliki kapasitas 40 ribu penonton. Yang paling aman, panpel mencetak tiket sebanyak 70 persen dari total kapasitas stadion. Keberadaan tamu undangan juga harus dihitung.

 

JP: Menurut Anda, apa saja upaya perbaikan yang harus dilakukan supaya insiden di Kanjuruhan tidak terjadi lagi?

NS: Ada tiga hal penting. Pertama, klub, panpel, kepolisian, PSSI, semua operator kompetisi duduk bersama-sama untuk menyamakan persepsi soal keamanan. Kedua, infrastruktur stadion harus ditinjau. Kalau pintu keluar-masuk stadion hanya satu akses, artinya harus ditambah. Di Kanjuruhan, ditembakkan gas air mata, secara naluri penonton akan bergerak mencari tempat yang udaranya segar.

Sebab, gas air mata membuat dada sesak dan mata pedih. Saat mereka berebut mencari napas, akses keluar stadion terlalu kecil. Akibatnya, terjadi impit-impitan yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Lalu, langkah berikutnya adalah memperbaiki perilaku suporter. Ini tidak gampang. Tapi, harus dilakukan. (jpc/ndy/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Tragedi Kanjuruhan