PERSAINGAN papan atas Premier League musim lalu (2022–2023) sudah menempatkan Newcastle United sebagai pesaing big six (Manchester City, Arsenal, Manchester United, Liverpool FC, Chelsea, dan Tottenham Hotspur). Persaingan itu diyakini masih berlanjut dalam Premier League musim baru (2023–2024).
MANCHESTER – Prinsip ”pertahanan terbaik adalah menyerang” dipenuhi Manchester City musim lalu lewat Erling Haaland. Debut Haaland di Premier League berbuah Golden Boot seiring torehan 36 gol. Musim ini City ingin menunjukkan bahwa pertahanan terbaik juga harus memiliki bek top.
Kedatangan Josko Gvardiol dengan banderol bek termahal dunia (memakai kurs EUR 90 juta atau setara Rp 1,5 triliun) bakal semakin menegaskan kekuatan The Citizens yang selama tiga musim beruntun menahbiskan diri sebagai klub dengan pertahanan terbaik di Premier League.
”Keberadaannya (Gvardiol) akan membantu satu sama lain untuk mencapai level yang lebih baik. Aku harap kami bersama-sama bisa memenangkan gelar. Bagus untuk klub ini mendapatkan pemain-pemain yang hebat seperti dia,” kata bek City Nathan Ake seperti dilansir Manchester Evening News.
Gvardiol berpeluang menjalani debut dalam laga pembuka Premier League 2023–2024 di Turf Moor, kandang Burnley FC, dini hari nanti (siaran langsung Vidio pukul 02.00 WIB). (ren/c19/dns)
The Gunners Lebih Kompetitif
LONDON – Declan Rice mengikuti jejak Jack Grealish sebagai pemain termahal Inggris sepanjang sejarah. Yakni, GBP 100 juta atau setara Rp 1,93 triliun. Bersama Kai Havertz dan Jurrien Timber, skuad Arsenal dianggap lebih kompetitif ketimbang musim lalu saat merepotkan Manchester City.
”Aku yakin klub ini; dengan pelatih, staf, dan pemain seperti sekarang ini; kami akan bisa merebut semua gelar di musim ini. Kami harus lebih fokus, bersama-sama, dan menikmati (satu pertandingan ke pertandingan, Red),” beber Rice seperti dilansir Football London.
Jika keperkasaan dalam turnamen pramusim ”milik sendiri” Piala Emirates masih diragukan, kemampuan mengalahkan City dalam Community Shield (7/8) sulit dinafikan. ”Menurutku, itu (juara Community Shield, Red) semakin menambah kepercayaan diri kami. Itu sekaligus pertanda kami mampu bersaing dengan klub mana pun,” tutur Timber kepada The Telegraph. (ren/c19/dns)
United Bosan Jadi Penonton
MANCHESTER – Manchester United musim lalu hanya menjadi penonton ketika Manchester City dan Arsenal berebut gelar juara Premier League. United juga ”memberi jalan” bagi City memenangkan treble winners musim lalu lantaran keok dalam final Piala FA.
United musim lalu telah sukses memenangi Piala Liga dalam musim pertama tactician Erik ten Hag. Prestasi yang disebut striker United Marcus Rashford sebagai pelecut untuk bersaing sebagai penantang serius gelar Premier League musim ini.
Hal yang tidak pernah terealisasi sejak Sir Alex Ferguson pensiun sebagai pelatih United pada musim 2012–2013. ”Butuh step-by-step. Kami harus mengambil langkah yang tepat agar kami bisa ke jalan yang tepat untuk memenangi Premier League,” tutur Rashford.
United sudah menutup kekurangan musim lalu dengan merekrut kiper Andre Onana, gelandang Mason Mount, dan striker Rasmus Hojlund. Jika mampu memanfaatkan uang penjualan Harry Maguire untuk membeli bek baru yang tepat, kedalaman skuad The Red Devils semestinya tidak ada masalah. (ren/c19/dns)
Tantangan Baru The Magpies
NEWCASTLE UPON TYNE – Newcastle United adalah alasan utama Premier League bukan lagi big six. The Magpies menjadi sensasi musim lalu ketika finis empat besar setelah kali terakhir merasakannya dua dekade silam (2002–2003). Bagaimana dengan musim ini?
Seperti pepatah mempertahankan lebih sulit daripada merebut, tantangan skuad Eddie Howe makin besar. Apalagi, Kieran Trippier dkk harus membagi fokus dan waktu dengan Liga Champions. Howe memang memperkuat skuad The Magpies dengan rekrutan seperti Sandro Tonali dan Harvey Barnes.
Secara kualitas memang bukan level top, tetapi kekuatan utama skema main Howe adalah kolektivitas dan bukan individu. ”Sekarang klub-klub lain memberi atensi kepada kami dan ambisi mereka untuk mengalahkan kami lebih besar. Itu menjadi tantangan baru bagi kami,” kata gelandang The Magpies Sean Longstaff kepada Mirror.
Perlu dicatat, The Magpies menjalani start terjal di empat matchweek awal. Menjamu Aston Villa (12/8), bertandang ke Manchester City (20/8), meladeni Liverpool FC di St James’ Park (27/8), lalu bertamu ke markas Brighton & Hove Albion (2/9). (ren/c19/dns)
Menguji Liverpool FC 2.0
LIVERPOOL – Liverpool FC musim ini lebih fresh. LFC melakukan cuci gudang dengan melepas enam pemain senior di bursa transfer musim panas. Termasuk merelakan kapten Jordan Henderson.
Selain Hendo, sapaan karib Henderson, LFC melepas striker Roberto Firmino serta deretan gelandang seperti James Milner, Naby Keita, Alex-Oxlade Chamberlain, dan Fabinho. Sebagai gantinya, LFC memboyong Alexis Mac Allister dan Dominik Szoboszlai plus masih mengupayakan gelandang bertahan Romeo Lavia.
Makanya, sebutan Liverpool 2.0 alias versi baru The Reds –julukan LFC– disematkan media-media Inggris untuk skuad Jurgen Klopp. Kapten anyar sekaligus bek tengah Virgil van Dijk telah meminta Kopites (sebutan fans LFC) tidak meragukan versi baru LFC.
”Aku bisa memahami kegalauan kalian. Tapi, aku bukan orang yang pesimistis. Pada musim ini, aku pastikan kami akan lebih bagus lagi,” kata Van Dijk. (ren/c19/dns)
Pukulan Berat Kehilangan Kane
LONDON – Kabar Tottenham Hotspur menerima tawaran keempat Bayern Munchen untuk Harry Kane seperti pukulan bagi Ange Postecoglou. Tactician baru Spurs itu termasuk yang berkali-kali meyakini Kane bakal menjadi anak asuhnya musim ini.
Tanpa Kane, Spurs keok 2-4 oleh FC Barcelona dalam perebutan Trofeu Joan Gamper di Estadi Olimpic Lluis Companys (9/8). Meski memiliki Richarlison dan Son Heung-min, tidak dapat dimungkiri HurriKane –julukan Kane– adalah pemain kunci Spurs. Apalagi, Spurs kehilangan jelang bergulirnya Premier League.
”Tim ini dipersiapkan dan menyatu dengan dia (Kane). Aku pun telah memahaminya. Itulah kenapa kabar tersebut (Spurs dan Bayern sepakat dengan transfer Kane, Red) sangat mengejutkanku,” kata gelandang serang Spurs Dejan Kulusevski kepada Football 365. (ren/c19/dns)
Percaya kepada Ide Poche
LONDON – Mauricio Pochettino mengawali tugasnya sebagai tactician Chelsea dengan menghadapi Liverpool FC pada Minggu (13/8) malam. Berkaca dari dua tactician pendahulunya, Graham Potter dan Frank Lampard, yang gagal memberikan kemenangan dalam laga pertama, Poche –sapaan akrab Pochettino– tidak mau mengulangnya.
Seperti diungkapkan gelandang Chelsea Enzo Fernandez, Poche membuat ekspektasinya terhadap prestasi The Blues –sebutan Chelsea– sudah berubah dari musim lalu. Bukan lagi sekadar kembali menembus empat besar Premier League atau lolos ke zona Liga Champions.
”Bersamanya (Poche), juara Premier League menjadi target utama kami,” koar Enzo seperti dilansir Evening Standard.
Kekuatan para pemain muda di Chelsea, kata Enzo, sangat cocok dalam ramuan strategi Poche. Usia rerata pemain Chelsea 23,8 tahun atau paling muda di antara 20 klub Premier League. ”(Tim muda) akan membuat kami menjadi tim yang agresif,” imbuh gelandang jangkar timnas Argentina kala memenangi Piala Dunia 2022 di Qatar tersebut. (ren/c19/dns)
Editor : izak-Indra Zakaria