DI tengah ratusan penonton yang memadati Lapangan Basket Korem 091/ASN, Samarinda, Sabtu (25/6) malam, terdapat sosok orang nomor Wahid di jajaran Polresta Samarinda. Ya, sosok tersebut adalah Kombes Pol Ary Fadli yang dengan sederhana membaur dengan suporter menyaksikan final KBL U-15.
Sebelum akhirnya dijemput Ketua Perbasi Kaltim Darwin Tandrin untuk duduk di kursi tamu, Ary Fadli dengan santai membaur dengan suporter lain tanpa gengsi. Mengenakan kaos abu-abu, Ary datang untuk menyaksikan putranya bertanding untuk tim Tunas Jaya.
Di sela kesibukannya sebagai Kapolresta Samarinda, Ary tetaplah orang tua seperti pada umumnya. Ketika memiliki waktu senggang, dia lepaskan atribut kedinasan dan menjadi sosok ayah yang mensupport hobi putranya. Hal itu selalu dia lakukan, bukan hanya di final saja.
Ary kerap menonton anaknya bertanding sejak reguler series ketika sedang tidak mengemban tugas kepolisian. “Saya sebenarnya tidak hobi basket, tapi hobi nonton basket. Kebetulan anak hobi basket,” ungkap Ary.
Secara pribadi, Ary Fadli mengapresiasi langkah Perbasi Kaltim di bawah kepemimpinan Darwin Tandrin yang berhasil menghidupkan kembali gairah basket di Bumi Etam. Termasuk pagelaran KBL yang dinilai sangat positif bagi remaja di Kaltim.
“KBL U-15 ini kegiatan yang positif. Dengan adanya Liga basket kelompok umur ini anak-anak bisa beraktivitas positif dan mengurangi dampak kenakalan remaja yang sering terjadi saat ini,” ucap dia.
Ary Fadli berpesan kegiatan ini terus digelar agar bisa melahirkan atlet potensial di masa yang akan datang. “Harapannya KBL U-15 ini terus dilaksanakan, kalau perlu diadakan di usia yg lebih kecil lagi, jadi ada jenjangnya, saya yakin Perbasi Kaltim bisa melakukan yang terbaik untuk memajukan basket Kaltim,” imbuh lelaki kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur, 8 Oktober 1977 tersebut.
Seperti diketahui, pada final Sabtu (15/6) malam, Kings berhasil mengalahkan Tunas Jaya dengan skor 65-56. Meski tim putranya gagal juara tahun ini, Ary Fadli tetap memberikan apresiasi kepada seluruh pemain Tunas Jaya. “Kalah menang itu adalah bagian dari proses pendewasaan. Yang menang jangan berpuas diri, yang kalah jangan kecil hati. Berlatih lagi untuk menjadi lebih kuat,” tegasnya.(*)