Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Takluk dari Sang Idola di UFC 324, Paddy Pimblett: Justin Gaethje Adalah Legenda Sejati

Redaksi Prokal • 2026-01-26 12:20:00
Paddy Pimblet.
Paddy Pimblet.

NEVADA – Meski gagal membawa pulang sabuk emas, petarung nyentrik asal Inggris, Paddy Pimblett, menunjukkan sikap ksatria usai ditundukkan Justin Gaethje dalam perebutan sabuk interim kelas ringan di UFC 324, Minggu (25/1/2026). Bertarung di T-Mobile Arena, The Baddy mengakui bahwa pengalaman sang veteran masih terlalu tangguh baginya.

Pimblett harus menyerah lewat keputusan angka mutlak (unanimous decision) dengan skor 49-46, 49-46, dan 48-47. Bekas luka yang menghiasi wajahnya menjadi saksi bisu betapa kerasnya pukulan The Highlight sepanjang lima ronde pertandingan.

“Saya ingin pulang dengan sabuk juara itu, dan saya tahu betapa tangguhnya saya; saya tidak perlu membuktikannya kepada siapa pun,” ujar Pimblett sebagaimana dikutip dari ESPN.

Alih-alih merasa pahit, Pimblett justru memberikan penghormatan setinggi langit kepada lawannya. Ia mengaku telah mengidolakan Gaethje jauh sebelum dirinya menapakkan kaki di oktagon UFC.

“Tidak ada orang yang lebih saya sukai untuk mengalahkan saya selain 'Highlight', seseorang yang saya tonton sejak kecil. Itu menunjukkan mengapa dia seorang legenda hidup di olahraga ini,” tuturnya dengan rendah hati.

Pimblett secara jujur mengakui kekuatan pukulan Gaethje, terutama serangan ke arah badan yang sempat membuatnya goyah di awal laga. “Jujur saja, dia memukul ulu hati saya di ronde pertama, dan itu hampir membuat saya KO. Menurut saya, skor 48-47 adalah hasil yang adil,” jelasnya.

Pesan Kemanusiaan di Tengah Kekalahan Di balik tensi tinggi pertarungan, Pimblett menggunakan panggung UFC untuk menyampaikan pesan emosional. Ia mempersembahkan laga tersebut untuk mengenang orang-orang terdekat yang baru saja berpulang, termasuk saudara dari bintang Liverpool Diogo Jota, Andre Silva.

Pimblett, yang selama ini vokal terhadap isu kesehatan mental, kembali menyoroti tragedi bunuh diri yang menimpa orang-orang di sekitarnya. Baginya, meskipun ia kalah di dalam oktagon, misinya untuk menyuarakan kesadaran akan kesehatan mental tetap menjadi prioritas utama. *&(

"Saya berusia 31 tahun, Anda belum melihat akhir dari perjalanan saya. Saya akan kembali lebih kuat," pungkasnya dengan penuh optimisme.

Editor : Indra Zakaria