PROKAL.CO- Badai kecaman terhadap atlet ski bebas Eileen Gu kembali meledak setelah tokoh politik Amerika Serikat, JD Vance, memberikan pernyataan menohok dalam wawancara di program "The Story With Martha MacCallum" di Fox News. Vance tanpa ragu membongkar apa yang disebutnya sebagai keputusan sinis Gu untuk meninggalkan tanah kelahirannya demi mengejar "padang rumput finansial" yang lebih hijau di Tiongkok.
Vance menyoroti kontradiksi tajam antara latar belakang Gu yang besar dan dididik di Amerika Serikat dengan keputusannya membela Tiongkok di panggung Olimpiade. Baginya, fenomena Gu bukan sekadar soal pilihan olahraga, melainkan soal integritas dan rasa terima kasih terhadap negara yang telah membentuknya.
Sentilan Keras: "Amerika yang Besarkan, Tiongkok yang Panen"
Dalam pernyataannya, Vance menegaskan bahwa warga negara AS seharusnya memiliki kebanggaan untuk mewakili negaranya sendiri, terutama mereka yang telah memetik keuntungan maksimal dari sistem di Amerika.
"Seseorang yang tumbuh besar di Amerika Serikat, yang mendapatkan manfaat dari sistem pendidikan kita, dari kebebasan dan kemerdekaan yang membuat negara ini luar biasa, saya berharap mereka ingin berkompetisi untuk Amerika Serikat," ujar Vance pedas. Ia menambahkan bahwa dirinya hanya akan mendukung atlet yang benar-benar mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Amerika, sebuah sindiran langsung terhadap status kewarganegaraan ganda Gu yang masih abu-abu.
Kritik Vance ini seolah menyiram bensin ke api kemarahan publik AS. Eileen Gu dituduh melakukan manuver yang sangat oportunis: menggunakan fasilitas pelatihan dan sumber daya kelas dunia di Amerika Serikat, lalu berpindah haluan ke Tiongkok setelah menyadari adanya potensi pendapatan raksasa dari pemerintah dan perusahaan-perusahaan Tiongkok.
Lebih dari sekadar soal uang, Gu dicap "munafik" karena keberaniannya bersuara lantang mengenai isu-isu politik sensitif di Amerika Serikat, namun mendadak bungkam seribu bahasa saat berhadapan dengan isu pelanggaran HAM di Tiongkok. Pola pikir yang dianggap "mengambil keuntungan dari kedua belah pihak" ini membuat sosoknya menjadi salah satu atlet yang paling dibenci oleh sebagian besar warga AS.
Meskipun dihujani label "pengkhianat" dan dituduh melakukan pengambilan keputusan yang sangat sinis dengan meninggalkan negara kelahirannya, Eileen Gu tampaknya tidak bergeming. Di tengah perdebatan nasionalisme yang memanas, sang atlet justru terlihat semakin mapan dengan tumpukan kontrak iklan bernilai fantastis. (*)
Fenomena ini meninggalkan pertanyaan besar bagi dunia olahraga internasional: Apakah kewarganegaraan kini hanyalah sebuah komoditas yang bisa dijual kepada penawar tertinggi? Bagi JD Vance dan jutaan warga Amerika lainnya, tindakan Gu adalah luka bagi semangat sportivitas dan loyalitas nasional yang sulit untuk dimaafkan.
Editor : Indra Zakaria