NEW YORK – Jagat maya tengah dihebohkan oleh laporan yang beredar luas pada 26 Februari 2026 mengenai sikap tegas bintang tenis asal Belarusia, Aryna Sabalenka. Pemain nomor satu dunia itu dikabarkan menolak untuk mengenakan ban lengan pelangi yang merupakan simbol dukungan terhadap hak-hak LGBT dalam rangkaian pertandingan mendatang, sebuah langkah yang langsung memicu perdebatan panas di kalangan penggemar olahraga internasional.
Laporan yang bermula dari unggahan di media sosial ini menyebutkan bahwa Sabalenka memiliki alasan prinsipil di balik keputusannya tersebut. Ia dikabarkan berpendapat bahwa arena tenis seharusnya menjadi tempat yang suci bagi performa atletik murni dan pencapaian kemenangan, bukan menjadi platform untuk menyuarakan agenda tertentu.
“Tenis seharusnya hanya fokus pada performa atletik dan kemenangan, bukan sebagai sarana penyampaian pesan politik atau ideologis,” ujar pernyataan yang diatribusikan kepada Sabalenka dalam laporan yang viral tersebut. Sikap ini menunjukkan keinginan sang juara Grand Slam untuk menjaga pemisahan yang jelas antara kompetisi profesional dan isu-isu sosial yang kompleks.
Kontroversi ini dengan cepat membelah opini publik menjadi dua kubu yang berseberangan. Di satu sisi, banyak penggemar melontarkan pujian kepada Sabalenka karena dianggap berani menjaga netralitas olahraga di tengah meningkatnya tekanan bagi para atlet untuk mengambil posisi dalam isu-isu global. Mereka memandang langkah ini sebagai upaya untuk mengembalikan fokus penonton pada kualitas permainan di atas lapangan.
Namun, di sisi lain, kritik tajam juga membanjiri lini masa. Sebagian pihak menuduhnya bersikap homofobia dan menganggap penolakan tersebut sebagai langkah mundur bagi inklusivitas dalam dunia olahraga. Para kritikus berpendapat bahwa sebagai figur publik dunia, seorang atlet memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman.
Hingga saat ini, kisah yang bermula dari unggahan media sosial tersebut terus menjadi bola salju yang membesar. Ketegangan antara pendukung netralitas olahraga dan aktivis hak asasi manusia kini menyelimuti persiapan turnamen mendatang, di mana setiap langkah Sabalenka di atas lapangan dipastikan akan berada di bawah mikroskop publik yang lebih ketat dari sebelumnya. (*)
Editor : Indra Zakaria