MOSKOW – Mantan juara dunia kelas bantam UFC, Petr Yan, melontarkan gagasan berani yang bertujuan menyatukan dunia melalui arena pertarungan. Jagoan berjuluk No Mercy ini mengusulkan agar petarung asal Rusia dilibatkan dalam ajang bergengsi yang direncanakan berlangsung di Gedung Putih, Amerika Serikat. Menurutnya, langkah ini akan menjadi simbol kuat bahwa sportivitas tidak mengenal batas negara maupun konflik politik.
Yan menegaskan bahwa sejauh ini dirinya belum mendengar adanya larangan resmi bagi atlet Rusia untuk berkompetisi di panggung sebesar UFC. Baginya, status UFC sebagai organisasi global adalah modal utama untuk menunjukkan sikap netralitas di tengah memanasnya suhu geopolitik dunia.
“Saya belum mendengar penolakan tegas tentang petarung Rusia yang berkompetisi. UFC adalah organisasi global yang sangat besar dengan atlet dari seluruh dunia. Akan menjadi isyarat niat baik yang luar biasa untuk menunjukkan bahwa pada akhirnya, olahraga terpisah dari politik,” ujar Petr Yan dengan penuh keyakinan.
Gagasan ini bukan sekadar keinginan pribadi, melainkan visi untuk meredakan ketegangan global melalui diplomasi olahraga. Yan memandang bahwa kehadiran petarung dari berbagai latar belakang, termasuk Rusia, di markas besar pemerintah Amerika Serikat akan mengirimkan pesan perdamaian yang tak terbantahkan kepada masyarakat internasional.
Lebih jauh lagi, petarung tangguh ini memiliki ambisi besar untuk menggelar ajang serupa sebagai balasan di jantung negaranya sendiri. Ia bermimpi bahwa kesuksesan ajang di Washington akan membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih besar antara dua kekuatan dunia tersebut.
“Pertama, kita rebut Gedung Putih—lalu kita adakan acara besar-besaran di Lapangan Merah,” tambahnya, merujuk pada ikon bersejarah di Moskow.
Pernyataan Yan ini muncul di tengah banyaknya atlet Rusia yang menghadapi berbagai pembatasan di kompetisi olahraga internasional lainnya. Jika UFC benar-benar merealisasikan laga di Gedung Putih dengan melibatkan petarung Rusia, hal tersebut diyakini akan menjadi preseden sejarah baru di mana oktagon menjadi jembatan penghubung bagi bangsa-bangsa yang tengah bersitegang.(*)
Editor : Indra Zakaria