LOUISIANA – Dustin "The Diamond" Poirier akhirnya buka suara mengenai pengalaman mengerikannya saat berhadapan dengan sang raja kelas ringan, Islam Makhachev. Bukan sekadar kalah, Poirier mengaku merasakan sensasi kekuatan yang benar-benar berbeda dan "unik" yang belum pernah ia temui sepanjang karier profesionalnya.
Dalam sebuah wawancara terbaru, Poirier mendeskripsikan bagaimana kuncian Makhachev bukan hanya soal teknik, melainkan tekanan yang memaksa tubuhnya menyerah dalam hitungan detik.
Bukan D'Arce Biasa: Rahasia Tekanan Dada
Banyak pengamat mengira Makhachev menggunakan teknik D’Arce Choke konvensional. Namun, Poirier mengoreksi anggapan tersebut berdasarkan apa yang ia rasakan langsung di dalam oktagon.
"Kekuatan Islam itu berbeda, temanku, benar-benar berbeda. Ya, itu mencekikku. Dan cara Islam melakukannya sangat unik," ujar Poirier.
Ia menjelaskan bahwa alih-alih mengunci pada bisep seperti kuncian D'Arce pada umumnya, Makhachev meletakkan titik tumpu kunciannya pada lengan bawah. Perbedaan krusial lainnya terletak pada arah tarikan. "Alih-alih meremas miring, ia menarik langsung ke arah dada. Itulah mengapa pertahanannya berbeda. Sensasi remasannya benar-benar berbeda."
Analisis Teknis: Efek "Lampu Padam" Instan
Poirier juga menyinggung analisis pakar grappling Craig Jones yang membedah efektivitas teknik ini. Menurut Poirier, variasi kuncian depan dengan tekanan langsung ke dada ini menutup aliran darah secara ekstrem. Jika pada kuncian biasa seorang petarung merasa perlahan-lahan kehilangan kesadaran, teknik Makhachev memberikan efek yang jauh lebih cepat dan mematikan.
"Begitu kuncian Islam terpasang, seolah-olah aliran darah langsung terputus. Biasanya Anda merasa perlahan-lahan pingsan, tetapi dengan ini, semuanya menjadi gelap dalam sekejap," kenang Poirier dengan raut wajah serius.
Momen paling mencekam bagi Poirier adalah ketika Makhachev berhasil mengamankan posisinya di pagar oktagon dan mulai melakukan tarikan mautnya. Deskripsi Poirier menggambarkan betapa tipisnya batas antara kesadaran dan pingsan di bawah kendali petarung asal Dagestan tersebut.
"Saat dia mengunci saya di dalam pintu (pagar), kegelapan mulai menyelimuti," pungkasnya.
Pernyataan Poirier ini semakin mempertegas reputasi Islam Makhachev sebagai salah satu petarung dengan kemampuan grappling paling efektif dan berbahaya dalam sejarah UFC, yang mampu memodifikasi teknik klasik menjadi senjata mematikan yang sulit diantisipasi bahkan oleh petarung veteran sekalipun.(*)
Editor : Indra Zakaria