SAO PAULO – Mantan juara dunia kelas ringan UFC sekaligus pemegang sabuk BMF Charles "Do Bronx" Oliveira, akhirnya angkat bicara menanggapi gelombang kritik yang menerpa rencana pertarungan gelar Baddest Motherf*er (BMF) miliknya melawan Max Holloway. Dengan nada bicara yang tajam, petarung asal Brasil ini melabeli para pengkritiknya sebagai orang-orang yang tidak profesional.
Oliveira merasa heran mengapa pertarungan antara dua legenda hidup MMA tersebut justru dipandang sebelah mata oleh beberapa rekan sejawatnya di UFC. Tanpa basa-basi, Oliveira langsung menembak jantung persoalan. Ia menilai kritik tersebut tidak berdasar pada analisis teknis, melainkan murni karena rasa dengki.
"Jujur saja, bagi para petarung, para profesional sejati, untuk mengatakan bahwa itu adalah pertarungan yang buruk… menurut saya itu adalah rasa iri," tegas Oliveira dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Bagi Oliveira, duel melawan Holloway adalah salah satu suguhan paling menarik bagi penggemar olahraga bela diri campuran, mengingat reputasi keduanya yang selalu tampil habis-habisan di dalam oktagon.
Saking jengahnya dengan ekspektasi publik dan kritik dari sesama petarung, Oliveira melontarkan sindiran sarkastik. Ia merasa tidak ada lagi yang bisa ia buktikan jika kemenangan di level tertinggi pun masih dianggap kurang memuaskan. "Kurasa lain kali aku akan bertanya: Apa rencananya? Apa yang kau ingin aku lakukan? Muay Thai? Judo? Kung Fu? Berselancar?" ujar Do Bronx dengan nada menyindir.
Ia merasa telah memberikan segalanya untuk olahraga ini, namun standar yang ditetapkan kepadanya seolah tidak pernah habis. "Karena jika aku masuk ke sana, memenangkan pertarungan, dan itu masih belum cukup baik, maka tidak ada lagi yang bisa kulakukan," pungkasnya.
Pertarungan Oliveira vs Holloway diprediksi akan menjadi salah satu main event terbesar tahun ini. Keduanya dikenal memiliki gaya bertarung yang agresif dan pantang menyerah. Bagi Oliveira, sabuk BMF bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan atas dedikasi dan kegilaan yang ia bawa ke dalam sangkar selama bertahun-tahun. (*)
Editor : Indra Zakaria