PROKAL.CO- Hubungan profesional antara Fabio Quartararo dan tim Yamaha MotoGP dilaporkan berada di titik nadir pada musim balap 2026. Ketegangan yang kian memuncak ini dipicu oleh stagnannya performa motor YZR-M1 yang dinilai sudah tidak lagi kompetitif untuk bersaing di barisan depan. Situasi ini menandai fase akhir yang kelam bagi kerja sama yang sempat membuahkan gelar juara dunia tersebut.
Pembalap asal Prancis itu secara terbuka melontarkan kritik pedas terhadap progres teknis tim yang dianggap berjalan di tempat. Quartararo menyebut berbagai perubahan yang diupayakan mekanik tidak memberikan dampak signifikan di lintasan. Ia bahkan menilai tim belum sepenuhnya memahami cara mengoptimalkan potensi motor, sebuah pernyataan yang menegaskan adanya jurang komunikasi dalam pengembangan teknis di internal Yamaha.
Frustrasi yang mendalam membuat Quartararo mulai mengambil jarak dari proses pengembangan. Ia merasa masukan yang selama ini diberikan seperti menemui jalan buntu karena tidak ada perkembangan nyata yang dirasakan saat balapan. Alih-alih terus mengulang kritik yang sama, pembalap berjuluk "El Matador" ini memilih untuk bersikap lebih pasif, sebuah sinyal kuat bahwa kepercayaan dirinya terhadap proyek masa depan Yamaha telah luntur.
Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa Yamaha kini tertinggal jauh dari para pesaing utamanya. Meski Quartararo masih berupaya mengamankan poin di setiap seri, selisih waktu yang lebar dengan pembalap terdepan menjadi bukti nyata kemerosotan performa tim pabrikan Jepang tersebut. Hasil yang jauh dari ekspektasi ini menciptakan atmosfer yang tidak ideal di dalam garasi.
Faktor utama yang memperkeruh suasana adalah kepastian hengkangnya Quartararo ke kubu Honda pada musim mendatang. Keputusan untuk membelot ke rival abadi tersebut membuat sisa kontraknya bersama Yamaha terasa seperti perpisahan yang canggung. Meski kedua pihak berkomitmen untuk tetap profesional hingga seri terakhir, dinamika hubungan yang sudah terlanjur retak membuat kerja sama ini diprediksi akan berakhir tanpa penutup yang manis. Bagi Yamaha, kepergian Quartararo di tengah krisis teknis menjadi tantangan besar untuk membangun kembali kejayaan mereka di masa depan. (*)
Editor : Indra Zakaria