PROKAL.CO- Petinggi KTM, Pit Beirer, secara terang-terangan meluapkan rasa frustrasinya terhadap performa pembalap utama mereka, Brad Binder, di awal musim MotoGP 2026. Ketegangan di internal pabrikan asal Austria ini memuncak setelah Binder menunjukkan hasil yang kontras dibandingkan dengan rekan-rekan satu mereknya. Beirer mendesak pembalap Afrika Selatan tersebut untuk segera meninggalkan gaya balap agresifnya yang dinilai tidak lagi relevan dengan dinamika kompetisi saat ini.
Meski sempat menunjukkan stabilitas di seri pembuka Thailand, penampilan Binder merosot tajam pada GP Amerika Serikat dengan hanya mampu menyentuh garis finis di posisi ke-12. Hal yang membuat manajemen gerah adalah kenyataan bahwa motor RC16 mampu bersaing di barisan depan di tangan pembalap lain. Keberhasilan rookie sensasional Pedro Acosta dan Enea Bastianini mengamankan podium menjadi bukti bahwa motor tersebut memiliki potensi besar, sementara Binder justru tertinggal hingga 17,5 detik di belakang Acosta.
Beirer menyoroti teknik pengereman lambat dan gaya sliding menyamping yang selama ini menjadi ciri khas Binder. Menurutnya, metode tersebut mungkin menjadi standar yang luar biasa satu atau dua tahun lalu, namun regulasi dan teknologi ban saat ini menuntut pendekatan yang lebih halus. Ia menegaskan bahwa pembalap harus mengoptimalkan ban saat pengereman, bukan sekadar membiarkannya merosot dan kehilangan momentum berharga.
Tekanan bagi Binder semakin berat mengingat kontraknya bersama tim pabrikan akan berakhir pada pengujung musim 2026. Beirer bahkan membandingkan kemampuan adaptasi Binder dengan pembalap senior seperti Marc Marquez yang bersedia mengubah gaya balapnya berkali-kali demi tetap kompetitif. Jika Binder tidak segera berbenah dan menghentikan kebiasaan agresif yang kini justru merusak performa ban, posisinya di tim utama terancam digusur oleh talenta-talenta muda yang jauh lebih efisien di atas lintasan. (*)
Editor : Indra Zakaria