LAS VEGAS — Petarung divisi berat, Josh Hokit, baru-baru ini memicu perdebatan panas di dunia seni bela diri campuran (MMA) setelah melontarkan kritik tajam terkait kepemilikan sabuk Baddest Motherf*er (BMF). Dalam sebuah pernyataan provokatif, Hokit secara terbuka menantang legitimasi para petarung di kelas 155 pon (lightweight) yang selama ini memegang gelar prestisius tersebut, dengan alasan perbedaan ukuran fisik dan kekuatan yang dianggapnya tidak sebanding.
Hokit menegaskan bahwa predikat sebagai petarung paling tangguh di dunia seharusnya menjadi milik mereka yang bertarung di kasta tertinggi tanpa batasan berat badan yang kecil. Baginya, esensi dari gelar BMF telah melenceng dari akarnya jika hanya diperebutkan oleh petarung kelas ringan. “Saya akan membawa sabuk BMF kembali ke tempatnya yang sebenarnya. Petarung kelas 155 pon tidak bisa menjadi BMF karena mereka terlalu kecil,” ujar Hokit dengan penuh keyakinan saat menyuarakan ambisinya.
Lebih lanjut, ia berargumen bahwa definisi "pembunuh paling berbahaya" di planet ini secara teknis dan praktis hanya pantas disematkan kepada para petarung dari divisi heavyweight atau kelas terbuka (openweight). Menurutnya, kekuatan murni dan ancaman nyata yang dihadirkan oleh para raksasa di oktagon jauh lebih merepresentasikan semangat orisinal dari sabuk BMF tersebut.
Hokit pun tidak ragu untuk menyatakan bahwa dirinya adalah sosok yang paling pantas menyandang gelar itu untuk mengembalikan martabat divisi berat. “BMF milik divisi heavyweight/open. Pembunuh paling berbahaya di planet ini!” tegasnya menutup pernyataan yang langsung viral di kalangan penggemar bela diri.
Pernyataan ini diyakini merupakan sinyal kuat dari Hokit untuk segera naik ke panggung utama dan menantang nama-nama besar demi membuktikan bahwa dominasi fisik adalah kunci utama dalam menentukan siapa yang paling layak disebut sebagai "Baddest Motherf***er" di dunia. Kini, para penggemar menantikan bagaimana respons dari para petarung kelas 155 pon yang selama ini menjadi pusat perhatian dalam perebutan gelar tersebut. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co