LAS VEGAS – Keputusan Khamzat Chimaev untuk meninggalkan kelas menengah dan naik ke berat ringan memicu diskusi panjang mengenai masa depannya. Presiden UFC, Dana White, akhirnya angkat bicara dan memberikan pandangan jujur mengenai alasan di balik kesulitan fisik yang dialami petarung berjuluk "Borz" tersebut.
Menurut White, masalah pemotongan berat badan (weight cut) yang dialami Chimaev bukan sekadar masalah teknis medis, melainkan ada hubungannya dengan tingkat keberhasilan yang telah dicapai sang petarung. Dana White memberikan analisis tajam mengenai mengapa Chimaev kini tampak sangat kesulitan untuk mencapai batas berat 185 pon (kelas menengah).
"Dengan tingkat kesuksesan yang ia miliki dan gaya hidupnya, segalanya menjadi sulit," ujar White. Pernyataan ini menyiratkan bahwa kemapanan dan perubahan gaya hidup setelah menjadi bintang besar di UFC secara tidak langsung memengaruhi disiplin fisik yang dibutuhkan untuk pemotongan berat badan ekstrem. Salah satu poin paling menarik dalam wawancara tersebut adalah ketika White ditanya apakah Chimaev telah memenuhi potensi besarnya sejak pertama kali debut di UFC dengan sangat dominan.
"Ketika Anda melihat seseorang bertarung untuk pertama kalinya, Anda berpikir, 'Wow, orang ini spesial'. Dan kemudian mereka (akhirnya) menjadi juara UFC," kata White. Saat ditegaskan kembali apakah itu berarti Chimaev sudah mencapai potensi maksimalnya di UFC, White menjawab tanpa ragu, "100%."
Pernyataan White ini seolah menjadi stempel bahwa masa kejayaan "monster" Chimaev di kelas menengah sudah berakhir. Dengan mengakui bahwa Chimaev telah mencapai potensinya saat menjadi juara kelas menengah (sebelum akhirnya dikalahkan Strickland), White tampaknya realistis bahwa Chimaev tidak akan lagi menjadi sosok dominan yang sama seperti saat ia pertama kali muncul di oktagon.
Kini, dengan rencana naik ke kelas berat ringan (93 kg), Chimaev akan memasuki babak baru. Namun, dengan komentar White mengenai "gaya hidup," tantangan terbesar Chimaev di divisi baru nanti mungkin bukan hanya lawan di dalam oktagon, melainkan bagaimana ia menjaga rasa lapar dan disiplin yang pernah membuatnya tampak tak terkalahkan di awal kariernya. (*)
Editor : Indra Zakaria