WASHINGTON — Petarung nyentrik sekaligus juara kelas menengah UFC, Sean Strickland, kembali memicu kegaduhan di luar oktagon. Jagoan asal Amerika Serikat ini mengklaim bahwa dirinya telah masuk dalam daftar hitam dan dilarang keras menghadiri acara khusus UFC yang digelar di Gedung Putih, Washington D.C.
Melalui pernyataan terbarunya, Strickland mengungkapkan rasa frustrasinya setelah tahu dirinya menjadi satu-satunya petarung top AS yang tidak mendapatkan akses masuk ke istana kepresidenan tersebut. Menurut Strickland, boikot tersebut terjadi akibat komparasi politik serta kritik tajamnya di masa lalu yang secara blak-blakan mengolok-olok Israel, keterlibatan politikus dalam skandal pelecehan seksual Jeffrey Epstein, hingga kedekatan Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
"UFC di Gedung Putih dengan [Netanyahu] di antara penonton. Sampah murni. Juara pria Amerika satu-satunya yang dilarang di Gedung Putih karena saya bilang Trump dimiliki oleh [Netanyahu]. Itu bukan opini publik, itu fakta," tulis Strickland dalam sebuah pernyataan kontroversialnya.
Strickland memang dikenal sebagai salah satu petarung UFC yang paling vokal, tanpa filter, dan sering kali menyuarakan teori konspirasi atau pandangan politik sayap kanan ekstrem yang sensitif. Alih-alih melunak demi menjaga reputasi korporasi di depan para pejabat tinggi negara, petarung berjuluk Tarzan ini justru kian meradang dan menyebut kehadiran para elite politik internasional di acara olahraga tersebut sebagai bentuk kepalsuan yang nyata. Hingga kini, baik pihak UFC maupun otoritas Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait kebenaran klaim sepihak dari Strickland tersebut. Namun, absennya Strickland dalam agenda seremonial penting ini mempertegas jurang pemisah antara dirinya yang kerap melabeli diri sebagai "suara rakyat jelata" dengan lingkaran elite kekuasaan yang kerap ia serang secara verbal.(*)
Editor : Indra Zakaria