Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Hancur Lebur di Roland Garros, Aryna Sabalenka Masuk 'Lubang Gelap' Hingga Ingin Pensiun Dini

Redaksi Prokal • Jumat, 5 Juni 2026 | 12:30 WIB
Aryna Sabalenka.
Aryna Sabalenka.

PARIS – Jagat tenis dunia dikejutkan oleh runtuhnya mental sang ratu tenis sejagat, Aryna Sabalenka, di atas tanah liat Roland Garros. Kekalahan tragis yang dideritanya pada babak perempat final grand slam French Open tidak hanya memupus mimpinya untuk mengangkat trofi, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang begitu mendalam.

Menghadapi petenis non-unggulan Diana Shnaider, Sabalenka dipaksa bertekuk lutut lewat drama tiga set dengan skor akhir 6-3, 5-7, dan tragisnya ditutup dengan skor memilukan 0-6. Pukulan telak berupa bagel—sebutan untuk kekalahan 0-6 dalam satu set—di set penentu membuat petenis putri ranking pertama dunia asal Belarus tersebut benar-benar kehilangan gairah hingga melontarkan pernyataan mengejutkan bahwa dirinya ingin menyudahi karier di dunia tenis.

Nahas bagi Sabalenka, petaka tersebut bermula saat ia kehilangan kendali permainan di set kedua. Tanpa diduga, ia harus merelakan sepuluh game jatuh ke tangan lawan secara berturut-turut tanpa mampu memberikan perlawanan berarti hingga pertandingan bubar. Performa antiklimaks ini menjadi sebuah anomali yang bahkan sulit dinalar oleh petenis berusia 28 tahun tersebut.

”Tidak ada pikiran, tidak ada emosi. Saya hanya ingin berhenti bermain tenis sekarang. Secara mental saya masuk ke lubang yang sangat dalam dan gelap. Saya tidak bisa kembali menemukan permainan saya,” curhat Sabalenka dengan nada frustrasi usai laga, seperti dilansir dari The Guardian.

Di tengah rasa sesal atas performa buruknya, Sabalenka juga melayangkan kritik pedas kepada pihak penyelenggara turnamen. Ia mempertanyakan keputusan panitia yang membiarkan atap stadion utama, Court Philippe-Chatrier, tetap terbuka lebar di saat embusan angin di lapangan sedang bertiup sangat kencang. Menurutnya, faktor cuaca ekstrem tersebut menjadi momok yang mengacaukan akurasi pukulannya.

Ia merasa kondisi lapangan saat itu sangat tidak ideal dan membuat ritme permainannya rusak total, bahkan sejak dirinya masih memimpin di awal laga. Dengan nada menyindir diri sendiri, Sabalenka mengaku heran bagaimana para penonton di tribun bisa betah duduk berlama-lama menyaksikan permainannya yang dinilai sangat berantakan hari itu.

Kini, tugas berat menanti tim pelatih Sabalenka untuk memulihkan trauma emosional sang petenis nomor satu dunia, agar ia bisa segera bangkit dari keterpurukan mental sebelum musim lapangan rumput dimulai. (*)

Editor : Indra Zakaria
#aryna sabalenka