Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mengenal Scottish Twister: Kuncian Penyiksa Tulang Rusuk yang Naik Daun di Jagat MMA Dunia

Indra Zakaria • Senin, 22 Juni 2026 | 10:45 WIB
Murtazali menggunakan kuncian twister skotlandia.
Murtazali menggunakan kuncian twister skotlandia.

PROKAL.CO- Dunia olahraga tarung campuran (MMA) baru saja menyaksikan bagaimana sebuah teknik elite yang dikombinasikan dengan eksekusi dingin mampu melahirkan teror baru di kelas bulu UFC. Dalam gelaran UFC Fight Night 279 di Meta APEX, Las Vegas, petarung tak terkalahkan Murtazali Magomedov sukses mengguncang jagat petarungan lewat kemenangan kuncian (submission) super langka yang langsung membuat para pengamat bela diri berdecak kagum.

Magomedov hanya membutuhkan waktu 1 menit 17 detik di ronde pertama untuk memaksa petarung tangguh Melsik Baghdasaryan melakukan tap out (menyerah). Kunci kemenangan kilat tersebut rupanya berasal dari variasi modifikasi teknik tingkat tinggi yang kini tengah naik daun di dunia Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) dan MMA, yaitu Scottish Twister (kuncian twister skotlandia).

Bukan sekadar kuncian leher (neck crank) atau manipulasi tulang belakang biasa, teknik Scottish Twister yang dilepaskan Magomedov bekerja dengan memberikan tekanan kompresi yang sangat menyakitkan pada tulang rusuk, otot-otot oblique (perut samping), serta tulang dada (sternum) korban. Teknik ini menciptakan efek hancur yang membuat Baghdasaryan langsung menyerah sesaat setelah tekanan rotasi dimulai.

Teknik mematikan ini awalnya dipopulerkan oleh petarung veteran MMA asal Skotlandia, Steven "Brave" Ray. Berkat efektivitasnya yang mengerikan di panggung internasional, teknik ini kini mulai diadopsi oleh banyak petarung papan atas dunia untuk menyudahi perlawanan musuh secara instan.

Secara taktis, Scottish Twister biasanya dieksekusi ketika seorang petarung telah berhasil mengamankan posisi dominan di punggung lawan (back control). Momentum emas untuk mengunci teknik ini muncul justru memanfaatkan kesalahan fatal korban saat mereka berusaha memutar badan demi meloloskan diri dari kuncian punggung.

Ketika lawan mencoba berbalik arah untuk kembali ke posisi bertahan (closed guard), petarung tidak akan menahan putaran tersebut, melainkan memanfaatkannya. Dengan reflek cepat, petarung akan menyelipkan lengan mereka ke bagian bawah pelipis atau leher lawan. Kunci dari kekuatan teknik ini terletak pada penguncian posisi siku-ke-siku (elbow-to-elbow grip) yang sangat rapat. "Begitu posisi kuncian lengan elbow-to-elbow sudah terkunci di leher, ruang gerak lawan otomatis mati total," jelas para praktisi jiu-jitsu mengenai fase krusial mekanika gerakan ini.

Setelah kuncian lengan mengunci kepala dan leher bagian atas, petarung akan memberikan tekanan rotasi berlawanan arah dengan tubuh bawah lawan yang tertahan. Kombinasi tarikan ini menghasilkan kompresi tulang rusuk yang luar biasa ekstrem.

Efek dari Scottish Twister digambarkan seperti dada yang dihimpit oleh mesin pres hidrolik. Korban yang terjebak tidak hanya merasakan sakit luar biasa pada sendi tulang belakang, tetapi juga mengalami sesak napas akut akibat tulang rusuk dan dada yang tertekan hebat. Karena rasa sakit fungsional yang instan ini, sebagian besar petarung yang tertangkap dalam posisi ini biasanya langsung melakukan tap out (menyerah) dalam hitungan detik demi menghindari patah tulang rusuk atau robeknya otot interkostal dada. 

Detail Eksekusi Brilian Magomedov di Atas Kanvas

Sejarah kemenangan sensasional ini bermula ketika Magomedov berhasil menjatuhkan Baghdasaryan ke atas kanvas melalui bantingan (takedown) yang bersih setelah sebelumnya sempat melontarkan beberapa pukulan kombinasi tajam. Di sinilah insting predator Magomedov bekerja dengan membaca momentum transisi lawan.

Saat Baghdasaryan mencoba memutar badannya secara agresif untuk meloloskan diri dan kembali ke posisi bertahan (closed guard), Magomedov justru memanfaatkan rotasi tersebut. Dengan refleks kilat, petarung asal Dagestan ini menyelipkan lengannya ke bawah pelipis dan leher Baghdasaryan, lalu mengunci posisi siku-ke-siku (elbow-to-elbow) dengan sangat rapat.

"Kuncian variasi twister unik ini memang sudah sering saya asah dan latih secara intensif di sasana," ungkap Murtazali Magomedov usai laga, merujuk pada detail mekanika Scottish Twister yang sukses ia aplikasikan dengan sempurna di laga debutnya.

Begitu posisi leher bagian atas terkunci, Magomedov langsung menarik dan memutar tubuh bagian atas lawan berlawanan arah dengan pinggul yang tertahan. Kombinasi tarikan ini menghasilkan tekanan pres hidrolik yang luar biasa ekstrem pada rongga dada Baghdasaryan. Rasa sakit yang teramat sangat dan sesak napas akut yang datang seketika memaksa Baghdasaryan melakukan tap out kilat demi menghindari cedera patah tulang rusuk yang fatal.

Kemenangan via Scottish Twister ini tidak hanya memperpanjang rekor bersih Magomedov menjadi 11-0 MMA (1-0 UFC) dengan rasio finishing 100 persen, tetapi juga membuktikan betapa berbahayanya ia di atas matras. Dengan menguasai teknik se-ortodoks dan semenghancurkan Scottish Twister, Murtazali Magomedov resmi mengirimkan sinyal bahaya tingkat tinggi kepada seluruh petarung di kelas bulu UFC. (*)

Editor : Indra Zakaria
#skotlandia #kuncian twister