LOS ANGELES — Lanskap industri olahraga tarung dunia mendadak bergejolak. Pendiri Most Valuable Promotions (MVP) sekaligus petinju selebriti, Jake Paul, baru saja membuat kejutan besar yang mengguncang dunia pertarungan dengan mengumumkan merger strategis antara MVP dan Professional Fighters League (PFL).
Langkah berani ini diambil untuk memperkuat fokus mereka pada Mixed Martial Arts (MMA), sports entertainment, serta tinju wanita. Namun, dampak terbesarnya bukan hanya soal ekspansi bisnis, melainkan persaingan terbuka dengan raksasa MMA dunia: UFC.
Deklarasi Perang terhadap Dana White dan UFC
Perselisihan antara Jake Paul dan Presiden UFC, Dana White, memang sudah berlangsung lama lewat aksi saling sindir di ranah publik. Kini, dengan masuknya Paul secara penuh ke industri MMA melalui PFL, persaingan tersebut resmi memasuki babak baru yang jauh lebih panas. Dalam wawancara terbarunya bersama Bloomberg pasca-pengumuman merger, Paul tanpa ragu mendeklarasikan persaingan terbuka ini.
"Bagi saya, ini adalah perang. Ini seperti Coke melawan Pepsi. Ini Nike melawan Adidas. Ini sangat mendebarkan," tegas Paul saat menanggapi situasi persaingan antara kubu MVP-PFL melawan UFC.
Paul juga memantapkan gertakannya saat berbicara di ESPN SportsCenter terkait rencananya melakukan debut MMA pada tahun 2027 mendatang. Tanpa basa-basi, ia langsung melayangkan tantangan terbuka. "Dana [White], kami datang untukmu, baby," ujar Paul.
Bukan sekadar gertakan di luar arena, persaingan ini juga menyasar isu sensitif terkait struktur gaji petarung UFC. Selama ini, Paul kerap memprotes kebijakan finansial UFC yang dinilai tidak adil bagi para atlet—sebuah isu yang juga baru-baru ini disuarakan oleh mantan bintang UFC, Ronda Rousey. Co-founder MVP, Nakisa Bidarian, menegaskan bahwa model bisnis PFL dan MVP bertujuan untuk memberikan hak yang lebih layak bagi para petarung demi meningkatkan kualitas industri secara keseluruhan.
"Jika Anda melihat olahraga lain, ketika para atlet mendapatkan bagian yang adil, mereka akan lebih berinvestasi dan berkomitmen. Pada akhirnya, produk yang dihasilkan pun akan jauh lebih baik," jelas Bidarian.
Bukan Cuma Cari Masalah, Tapi Ingin Menang
Merger antara PFL dan MVP ini jelas menandai babak baru dalam peta kekuatan olahraga tarung global. Mengomentari laporan dari media finansial terkemuka Wall Street Journal, Paul menegaskan bahwa misinya bersama PFL bukanlah sekadar menggertak sang penguasa pasar. "Wall Street Journal mengatakan bahwa kami ingin mencari masalah dengan UFC. Wall Street Journal, kami tidak cuma ingin mencari masalah; kami ingin memenangkan pertarungan ini," pungkas Paul menegaskan ambisinya. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co